![]() |
| rak penyimpanan khusus untuk memajang dan menyimpan botol minuman anggur. ISTOCK |
Satu-satunya toko alkohol resmi di Arab Saudi dilaporkan mulai kehabisan stok, mencerminkan dampak langsung krisis Selat Hormuz terhadap rantai pasok di kawasan Teluk. Gangguan ini terjadi ketika jalur pelayaran utama dunia tersendat akibat eskalasi konflik dengan Iran.
Gerai yang berlokasi di Diplomatic Quarter, Riyadh, itu sebelumnya memasok bir, wine, hingga minuman keras seperti tequila untuk kalangan terbatas, termasuk diplomat non-Muslim dan ekspatriat tertentu.
Namun, menurut laporan Reuters yang dikutip Al Jazeera, pasokan dari Bahrain dan Uni Emirat Arab tersendat, membuat rak-rak hanya terisi produk premium atau merek yang kurang dikenal.
Staf toko memberi tahu pelanggan bahwa keterlambatan pengiriman menjadi penyebab utama kelangkaan. Situasi ini memicu antrean panjang kendaraan di luar lokasi, dengan pembeli harus mencatat setiap transaksi melalui aplikasi resmi pemerintah.
Toko tersebut pertama kali dibuka pada Januari 2024 sebagai bagian dari kebijakan terbatas bagi diplomat asing. Aksesnya kemudian diperluas pada akhir 2025 untuk pemegang izin Residensi Premium, sejalan dengan upaya Putra Mahkota Mohammed bin Salman mendorong liberalisasi terbatas dan menarik talenta asing.
Krisis stok ini muncul di tengah tekanan yang lebih luas terhadap sistem logistik regional. Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz hampir terhenti.
Iran dilaporkan melarang kapal berbendera asing melintas hingga AS mencabut blokade angkatan lautnya. Akibatnya, sekitar 2.000 kapal dan hingga 20.000 pelaut tertahan di kawasan Teluk.
Para importir di negara-negara Teluk kini mengalihkan jalur distribusi melalui pelabuhan di Laut Merah, termasuk Jeddah dan King Abdullah Port di Arab Saudi. Barang kemudian dikirim lewat darat menuju Uni Emirat Arab dan Oman.
Perubahan rute ini mendorong biaya pengiriman kontainer melonjak lebih dari dua kali lipat, dengan waktu tempuh bertambah hingga dua pekan karena kapal harus memutar melalui Tanjung Harapan.
Dalam konteks diplomatik, Arab Saudi disebut mendesak AS untuk mencabut blokade dan kembali ke meja perundingan. Riyadh memperingatkan bahwa Iran dapat memperluas tekanan dengan mengancam Selat Bab al-Mandeb, jalur penting bagi ekspor minyak kerajaan.
Al Jazeera melaporkan pada akhir April bahwa AS memperkirakan proses pembersihan ranjau laut yang diduga dipasang Iran bisa memakan waktu hingga enam bulan. Estimasi ini menandakan potensi gangguan berkepanjangan terhadap arus perdagangan global, termasuk pasokan barang konsumsi sehari-hari di kawasan Teluk.
Bagi pelanggan di Riyadh, krisis ini terasa langsung dalam bentuk rak kosong di toko yang selama ini menjadi satu-satunya akses legal terhadap minuman beralkohol di negara tersebut.
0Komentar