Momen penandatanganan dokumen kerja sama bilateral antara Vietnam dan Jepang. KANTEI

Jepang dan Vietnam meneken enam perjanjian kerja sama di Hanoi yang mencakup energi, mineral kritis, hingga teknologi. Langkah ini memperkuat ketahanan rantai pasokan di tengah gejolak pasar global akibat ketidakstabilan Timur Tengah.

Dalam pertemuan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dengan Perdana Menteri Vietnam Le Minh Hung, kedua negara sepakat meningkatkan investasi Jepang hingga US$5 miliar per tahun. Perdagangan bilateral ditargetkan mencapai US$60 miliar pada 2030.

Kesepakatan meliputi teknologi luar angkasa, informasi dan komunikasi, irigasi, infrastruktur tahan bencana, serta penanganan perubahan iklim. Kolaborasi juga diperluas ke semikonduktor, kecerdasan buatan, dan transformasi hijau-digital. Jepang mendanai 15 proyek riset semikonduktor melalui program NEXUS.

Takaichi menyoroti pesatnya pertumbuhan Vietnam.

"Vietnam, seperti nama lain Hanoi yaitu Thang Long — yang berarti 'naga yang sedang bangkit' — berkembang dengan laju yang sungguh mengesankan," ujarnya.

Di sektor energi, Jepang berkomitmen membantu pasokan minyak mentah untuk Kilang Nghi Son. Proyek ini menjadi bagian dari inisiatif POWERR ASIA dalam kerangka Asia Zero Emission Community, dengan dukungan pembiayaan sekitar US$10 miliar untuk respons darurat energi, cadangan minyak, dan diversifikasi mineral.

Vietnam, yang memiliki cadangan tanah jarang terbesar keenam di dunia, dipandang sebagai mitra penting. Mengutip Reuters, kedua negara sepakat "mempererat koordinasi guna memastikan pasokan yang stabil dan memperkuat rantai pasokan" mineral kritis.

Kerja sama ini berlangsung di tengah kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran, terutama di Selat Hormuz, yang berpotensi mengganggu distribusi energi global. Sejak menjabat, Takaichi aktif mendorong diplomasi energi, termasuk kesepakatan mineral kritis dengan Amerika Serikat pada Oktober 2025.

Takaichi juga dijadwalkan berpidato di Universitas Nasional Vietnam mengenai strategi “Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka” sebelum melanjutkan kunjungan ke Australia.