Sebuah jet tempur F35 AS tampil selama hari pembukaan Dubai Air Show, Uni Emirat Arab, Senin, 13 November 2023. | AP PHOTO/KAMRAN JEBREILI


Jet tempur siluman F-35A Lightning II milik Angkatan Udara Amerika Serikat memancarkan kode darurat 7700 saat terbang di atas Teluk Oman pada Minggu (10/5), menandai keadaan darurat F-35 kedua dalam kurun 24 jam di tengah eskalasi militer yang kian memanas antara Washington dan Teheran di kawasan Teluk Persia.

Data pelacak penerbangan menunjukkan pesawat beregistrasi 13-5067 itu mulai memancarkan sinyal darurat sekitar pukul 08.12 UTC, saat melaju di ketinggian sekitar 10.500 kaki di ruang udara dekat Uni Emirat Arab (UEA). 

Jet tersebut lantas berbalik arah menuju UEA sambil terus kehilangan ketinggian, sebelum akhirnya menghilang dari pantauan transponder publik.

Media-media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran termasuk kantor berita semi-resmi Tasnim bergegas mengklaim pesawat siluman AS itu ditembak jatuh saat beroperasi di dekat Selat Hormuz. 

Namun hingga kini tak ada reruntuhan, citra satelit, maupun konfirmasi independen yang muncul untuk mendukung klaim tersebut. Pentagon dan US Central Command (CENTCOM) juga tidak mengkonfirmasi adanya tindakan permusuhan terhadap pesawat dimaksud.

Sumber-sumber militer yang berbicara secara anonim mengindikasikan pesawat itu kemungkinan telah mendarat dengan selamat di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi—salah satu pusat utama operasi udara AS di Timur Tengah. 

Para analis penerbangan dan militer mengingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan: kode squawk 7700 adalah sinyal darurat internasional standar yang bisa mengindikasikan beragam masalah, mulai dari kerusakan mekanis, gangguan bahan bakar, hingga kegagalan avionik.

Darurat kedua dalam sehari

Insiden ini bukan yang pertama dalam hari itu. Laporan terpisah dari Tasnim juga mengutip data pelacakan penerbangan yang menunjukkan sebuah pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 Stratotanker milik AS mengalami keadaan darurat di atas Teluk dan Selat Hormuz sekitar waktu yang sama.

Para pengamat militer mengingatkan bahwa sinyal darurat semacam ini bukan kejadian langka di zona pertempuran aktif bahkan masalah teknis kecil sekalipun kerap mendorong pilot membunyikan kode guna mendapat penanganan prioritas.

Konflik yang terus membara

Dua kedaruratan ini muncul di tengah konfrontasi terbuka yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Pada 8 Mei, militer AS menyatakan pasukannya telah menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker minyak berbendera Iran yang berupaya menembus blokade Amerika, sebagaimana dilaporkan Associated Press

Beberapa jam sebelumnya, CENTCOM melaporkan serangan Iran terhadap tiga kapal Angkatan Laut AS di selat yang sama berhasil digagalkan, dan fasilitas militer Iran turut diserang sebagai balasan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Angkatan Laut memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut terhadap kapal-kapal Iran akan memantik "serangan besar-besaran" terhadap pangkalan dan kapal perang Amerika di kawasan itu.

Ketegangan ini berakar dari serangan militer gabungan AS-Israel terhadap Iran yang diluncurkan pada 28 Februari—memicu konflik yang belum mereda hingga saat ini. 

Washington telah menyampaikan proposal kepada Teheran melalui perantara Pakistan untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh di Teluk sekaligus membuka jalur perundingan. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tawaran tersebut masih "dalam pertimbangan."

Pada Maret lalu, sebuah F-35 lain dikonfirmasi mengalami kerusakan akibat tembakan yang diduga berasal dari Iran saat menjalani misi tempur di atas wilayah Iran, dan terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara AS—insiden yang diakui CENTCOM masih dalam penyelidikan.