pertemuan diplomatik antara perwakilan tinggi dari Qatar dan Iran untuk membahas hubungan bilateral dan situasi regional.


Negara-negara Arab Teluk mulai kembali membuka saluran diplomatik dengan Iran setelah berminggu-minggu konflik yang diwarnai serangan rudal dan drone. Langkah ini diambil di tengah kesadaran bahwa pendekatan militer tidak cukup untuk meredakan krisis pelayaran di Selat Hormuz dan menjaga stabilitas kawasan.

Pergerakan diplomatik meningkat sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku pada 8 April. Sejumlah negara yang sebelumnya mengusir diplomat Iran kini kembali menjajaki komunikasi, seiring kekhawatiran akan potensi eskalasi baru ketika kesepakatan tersebut berakhir.

Qatar dan Turki menjadi dua aktor yang aktif mendorong de-eskalasi. Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, bertemu Menteri Luar Negeri Uzbekistan Bakhtiyor Saidov di Doha pada Senin. Pertemuan itu membahas gencatan senjata AS-Iran serta upaya meredakan ketegangan kawasan.

Dalam konteks mediasi yang sedang berlangsung, Al Thani menekankan pentingnya respons konstruktif dari semua pihak. 

“Perlunya semua pihak untuk merespons upaya mediasi yang sedang berlangsung, dengan cara yang membuka pintu bagi penyelesaian akar permasalahan krisis melalui cara-cara damai dan dialog,” ujarnya.

Kuwait juga mengintensifkan komunikasi dengan Turki. Menteri Luar Negeri Kuwait Sheikh Jarrah Jaber Al-Ahmad Al-Sabah melakukan kunjungan ke Ankara untuk bertemu Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Agenda pembicaraan mencakup pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, koordinasi keamanan regional, serta dukungan terhadap upaya diplomatik antara Washington dan Teheran.

Sumber dari pihak Turki menyebut Fidan akan memuji sikap Kuwait yang dinilai menahan diri selama serangan Iran dan berperan dalam mencegah konflik meluas.

Langkah ini kontras dengan situasi pada Maret lalu. Arab Saudi saat itu mengusir lima diplomat Iran, termasuk atase militer, dengan tuduhan pelanggaran kedaulatan terkait serangan terhadap infrastruktur energi. Qatar juga mengambil langkah serupa dengan mengusir personel militer dan keamanan Iran.

Data yang dihimpun Asharq Al-Awsat menunjukkan sekitar 83% serangan Iran selama konflik justru mengarah ke negara-negara Teluk, bukan Israel.

Namun, setelah gencatan senjata berlaku, komunikasi kembali dibangun. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan berbicara melalui telepon dengan Al Thani pada akhir April untuk membahas kelanjutan upaya de-eskalasi, menurut media pemerintah Iran.

Oman muncul sebagai perantara paling aktif dalam fase terbaru ini. Kementerian Luar Negeri Oman mengonfirmasi pembicaraan tingkat wakil menteri dengan Iran yang berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.

Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengatakan negaranya tengah “bekerja secara intensif untuk menetapkan pengaturan jalur aman” di perairan tersebut.

Dorongan diplomasi Oman turut memicu spekulasi pasar mengenai peluang pertemuan resmi AS-Iran. Salah satu platform prediksi memperkirakan kemungkinan itu mencapai 32% sebelum 30 Juni.

Di saat yang sama, posisi Iran dalam negosiasi belum menunjukkan perubahan signifikan, baik terkait Selat Hormuz maupun program nuklirnya. Seorang anggota parlemen senior Iran bahkan mengakui gencatan senjata diterima sebagian “untuk mengisi ulang dan memperkuat angkatan bersenjata.”