![]() |
| Gugus Tugas Gabungan 152 multinasional bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pelayaran. ROYAL NAVY |
Sekutu-sekutu NATO mulai memindahkan aset angkatan laut mereka ke sekitar Teluk Persia, termasuk kapal pemburu ranjau, sebagai persiapan untuk misi pengamanan Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik dan ancaman ranjau laut.
Langkah ini mengemuka di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat agar negara-negara Eropa memperbesar kontribusi mereka dalam menjaga jalur energi global tersebut.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa negara-negara Eropa kini mulai merespons desakan itu dengan meningkatkan kehadiran militer di kawasan.
Berbicara di sela KTT Komunitas Politik Eropa di Yerevan, Armenia, Rutte mengatakan sekutu Eropa telah menangkap pesan dari Washington terkait pembagian beban keamanan. “Semakin banyak” negara, kata dia, telah memosisikan kapal pemburu dan penyapu ranjau di dekat Teluk sebagai persiapan menuju “fase berikutnya” setelah konflik mereda.
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam krisis ini. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut, yang dalam beberapa bulan terakhir terganggu oleh penempatan ranjau laut oleh Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari. Gangguan itu memicu lonjakan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan antara Washington dan ibu kota Eropa sempat memanas. Presiden AS Donald Trump berulang kali mengkritik sekutu NATO yang dinilai tidak cukup berkontribusi, bahkan sempat mengancam akan menarik AS dari aliansi.
Pada Maret, Rutte menyebut 22 negara termasuk anggota NATO serta Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab telah menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam upaya pengamanan selat.
Di tengah dorongan militer tersebut, Prancis mengambil pendekatan berbeda. Presiden Emmanuel Macron menekankan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz harus dilakukan melalui jalur diplomasi antara AS dan Iran.
“Yang paling kami inginkan adalah pembukaan kembali secara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Iran — itulah satu-satunya solusi untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Macron kepada para pemimpin Eropa.
Ia menambahkan bahwa Paris mendukung upaya menjaga kebebasan navigasi, tetapi tidak akan terlibat dalam operasi militer yang kerangkanya belum jelas. Pernyataan ini mengindikasikan kehati-hatian Prancis terhadap operasi yang dipimpin sepihak oleh AS tanpa kesepakatan formal dengan Teheran.
Sebelumnya, Prancis dan Inggris telah mengumumkan rencana pembentukan misi maritim defensif multinasional yang berfokus pada pembersihan ranjau dan perlindungan jalur pelayaran. Lebih dari selusin negara disebut siap menyumbangkan aset.
Di Berlin, pemerintah Jerman juga mulai mempertimbangkan pengiriman kapal pemburu ranjau ke kawasan tersebut, menurut laporan Süddeutsche Zeitung.
Analisis dari Shephard Media pada akhir April mencatat bahwa krisis di Hormuz menyoroti keterbatasan kemampuan perburuan ranjau di negara-negara Barat, terutama angkatan laut yang sebelumnya berfokus pada kawasan Baltik.
Pergerakan militer ini berlangsung bersamaan dengan operasi terbatas oleh AS di lapangan. Militer AS dilaporkan mulai memandu kapal-kapal netral yang terjebak di Teluk untuk keluar melalui Selat Hormuz, sebagaimana disampaikan Trump melalui unggahan media sosialnya.

0Komentar