Pemerintahan Amerika Serikat berencana menutup Civil-Military Coordination Centre (CMCC), fasilitas utama yang selama ini digunakan untuk memantau gencatan senjata Israel-Hamas dan mengoordinasikan bantuan ke Gaza. Langkah ini menandai pergeseran strategi Washington di tengah tersendatnya rencana besar Presiden Donald Trump untuk kawasan tersebut.
CMCC beroperasi dari sebuah gudang di Kiryat Gat, Israel selatan, sejak Oktober 2025. Fasilitas ini menjadi tulang punggung fase awal upaya AS menghentikan konflik Gaza, dengan melibatkan sekitar 190 personel militer serta perwakilan sipil dan militer dari negara sekutu.
Dalam skema baru, fungsi CMCC akan dialihkan ke International Stabilization Force (ISF) yang juga berada di bawah komando AS. Pusat itu akan diubah menjadi International Gaza Support Center dan dipimpin Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers.
Perubahan ini sekaligus memangkas kehadiran militer AS secara signifikan, dari sekitar 190 personel menjadi hanya 40 orang, dengan rencana menggantinya melalui staf sipil dari negara mitra.
Sejumlah diplomat yang mengetahui operasional tersebut menyebut langkah ini sebagai perombakan besar, meski secara praktis dinilai sebagai penutupan. Mereka mengungkapkan hal itu kepada Reuters.
CMCC sendiri disebut kehilangan momentum dalam beberapa bulan terakhir. Partisipasi negara sekutu mulai menyusut, sementara pemerintah Israel juga menunjukkan sikap yang semakin tidak mendukung.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bahkan telah menyerukan pembubaran pusat itu sejak awal tahun. Pada April, Israel melarang Spanyol terlibat dalam aktivitas CMCC.
Kritik juga datang dari berbagai pihak yang menilai pusat tersebut sejak awal memiliki keterbatasan. CMCC tidak memiliki kewenangan untuk menegakkan gencatan senjata ataupun memastikan distribusi bantuan benar-benar sampai ke warga sipil di Gaza.
Keraguan serupa membayangi ISF yang akan mengambil alih peran tersebut. Hingga kini, hanya sedikit negara yang bersedia berkontribusi, dan tidak ada yang menawarkan pasukan untuk peran keamanan. Washington juga telah menegaskan tidak akan menempatkan pasukan AS langsung di dalam Gaza.
Seorang pejabat dari Dewan Perdamaian Trump, lembaga yang mengawasi kebijakan Gaza, menolak memberikan komentar terkait masa depan CMCC. Namun ia menekankan bahwa pusat itu selama ini memainkan "peran penting dalam memastikan pengiriman bantuan dan mengoordinasikan upaya-upaya yang ada".
Di dalam operasionalnya, ketegangan juga muncul di antara negara mitra. Tiga sumber diplomatik menyebut personel AS kerap membatasi akses sekutu ke area tertentu dalam kompleks, khususnya anneks ISF yang dipisahkan tembok, memicu frustrasi di kalangan mitra internasional.
Perubahan ini berlangsung di tengah kondisi lapangan yang semakin rumit. Gencatan senjata yang dicapai pada Oktober 2025 terus tergerus oleh serangan militer Israel dan penolakan Hamas untuk melucuti senjata.
Upaya rekonstruksi yang dipimpin AS juga terhenti setelah Washington terlibat dalam kampanye militer bersama Israel melawan Iran.
0Komentar