![]() |
| Bendera Uni Eropa (kiri) dan NATO (kanan), yang melambangkan kemitraan strategis antara kedua organisasi tersebut dalam keamanan Eropa. | REUTERS |
Para pemimpin Eropa kini secara terbuka mempertimbangkan masa depan NATO tanpa Amerika Serikat di pucuk kepemimpinan — sebuah skenario yang sebelumnya hampir tak terpikirkan dalam sejarah aliansi pertahanan Barat itu.
Pergeseran ini dipercepat oleh dua keputusan Washington yang memantik keguncangan di Brussels dan ibu kota-ibu kota Eropa: serangan militer AS ke Iran tanpa konsultasi dengan sekutu NATO, dan tekanan Trump agar negara-negara Eropa ikut turun tangan membuka kembali Selat Hormuz. Jalur perairan itu biasanya mengangkut sekitar seperempat pasokan minyak dan gas dunia.
Mantan Duta Besar AS untuk NATO, Ivo Daalder, menyebut situasi ini sebagai titik balik yang tak bisa diabaikan. Kepada NPR, ia mengatakan bahwa "ada yang rusak secara fundamental" merujuk pada keyakinan Trump bahwa keamanan Amerika tidak lagi terikat pada keamanan Eropa.
Pandangan itu, kata Daalder, bertentangan langsung dengan logika yang menjadi fondasi NATO sejak berdiri setelah Perang Dunia II. Ia juga menulis dalam buletinnya bahwa ini adalah "krisis terburuk yang pernah dihadapi NATO sejauh ini."
Pentagon mengumumkan penarikan sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman dalam enam hingga dua belas bulan ke depan sekitar 14% dari total 36.000 personel AS yang ditempatkan di sana.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyebut langkah itu "sudah bisa diprediksi" dan menegaskan bahwa "orang-orang Eropa perlu mengambil lebih banyak tanggung jawab atas keamanan kami sendiri."
Namun mengisi kekosongan itu bukan perkara cepat. Mengutip laporan Financial Times, negara-negara Eropa telah menyusun rencana lima hingga sepuluh tahun untuk menggantikan kapabilitas AS di sejumlah bidang kritis mulai pertahanan udara, serangan jarak jauh, logistik, hingga kemampuan manuver.
Para analis keamanan memperingatkan bahwa program persenjataan ulang NATO tidak akan mampu menutup kesenjangan itu sebelum 2035 yang menciptakan celah yang berpotensi dieksploitasi.
Mantan Duta Besar AS untuk NATO lainnya, Douglas Lute, menilai Jerman telah "melangkah maju secara signifikan." Ia menyebut koalisi Jerman, Prancis, Inggris Raya, dan Polandia sebagai kelompok dengan potensi terbesar untuk mengambil alih peran kepemimpinan jika AS benar-benar mundur.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada awal Mei mengakui bahwa para pemimpin Eropa telah mendengar keluhan Trump "dengan sangat jelas," dan menyebut para sekutu sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan keterlibatan di Selat Hormuz.
Inggris dan Prancis sudah bergerak. London menyatakan tidak akan bergabung dalam blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, tetapi akan mengirimkan kemampuan penyapuan ranjau. Paris mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle ke Laut Merah.
Kanselir Jerman Friedrich Merz berupaya menjaga nada tetap tenang. Dalam wawancara dengan ARD, ia menegaskan bahwa penarikan pasukan AS "tidak ada kaitannya" dengan ketegangan seputar Iran, dan bahwa Amerika Serikat "adalah dan akan tetap menjadi mitra terpenting Jerman" dalam NATO.

0Komentar