Ilustrasi Kapal dan kapal tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, pada 18 April 2026. REUTERS

Militer Amerika Serikat menyita sebuah tanker minyak terkait Iran bernama Skywave di Samudra Hindia pada Rabu (20/5) dini hari, menambah panjang daftar operasi pencegatan maritim yang kian agresif sejak Washington memperketat cengkeramannya terhadap ekspor minyak mentah Teheran.

Skywave sebelumnya telah dikenai sanksi AS pada Maret lalu atas perannya mengangkut minyak Iran. Data pelacakan kapal menunjukkan tanker itu sempat memuat minyak mentah di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, sebelum berlayar menuju China. Diperkirakan lebih dari satu juta barel minyak mentah ada di dalam kapal saat penyitaan dilakukan.

Kapal ini bukan yang pertama. Komando Pusat AS (U.S. Central Command) mencatat setidaknya 31 kapal telah disita atau dicegat saat melintas melalui Selat Hormuz sejak akhir Februari, ditambah beberapa tanker di Samudra Hindia yang juga mengangkut minyak mentah Iran. 

Bulan lalu, giliran supertanker M/T Majestic X yang diperiksa di Samudra Hindia, sementara kapal kargo berbendera Iran bernama Touska ditangkap di Teluk Oman pada 20 April.

Bloomberg melaporkan pekan lalu sekitar 23 kapal tanker menumpuk di sekitar Pulau Kharg, pengelompokan terbesar sejak blokade AS dimulai.

Skywave diidentifikasi sejak Maret sebagai bagian dari jaringan ghost fleet, armada kapal yang beroperasi dengan bendera palsu dan sengaja menonaktifkan sistem pelacakan untuk menyelundupkan minyak Iran. 

The Wall Street Journal melaporkan kapal itu masuk dalam kelompok tanker yang secara rutin memuat minyak mentah di Pulau Kharg, di saat Iran masih mengekspor rata-rata 2,1 juta barel per hari melalui Selat Hormuz.

Penyitaan ini datang di tengah situasi diplomatik yang terus bergerak. Presiden Trump pada Senin mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan Selasa, setelah menerima permohonan dari Emir Qatar Sheikh Tamim, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden UEA Sheikh Mohamed.

"Tampaknya ada peluang yang sangat besar bahwa mereka bisa mencapai kesepakatan. Jika kita bisa melakukannya tanpa harus mengebom mereka habis-habisan, saya akan sangat senang," kata Trump kepada para wartawan.

Negosiasi nuklir antara kedua negara masih berlangsung secara tidak langsung, melalui perantara termasuk Pakistan dan negara-negara Teluk. 

Iran dilaporkan mengusulkan pembekuan jangka panjang atas sebagian program nuklirnya, bukan pembongkaran total. Washington sebaliknya menuntut Teheran membatasi diri pada satu fasilitas nuklir aktif dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada AS.

Trump menegaskan militer AS tetap diminta siap melancarkan "serangan besar-besaran secara penuh terhadap Iran dalam waktu singkat" apabila jalur diplomasi buntu.