![]() |
| Kendaraan militer Israel di sisi Israel dari perbatasan Israel-Lebanon, setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku, 17 April 2026. | FLORION GOGA / REUTERS |
Israel memperluas operasi daratnya di Lebanon selatan dengan mendorong pasukan melampaui “Garis Kuning”, garis demarkasi yang sebelumnya ditetapkan sendiri oleh militer Israel. Langkah itu terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran justru semakin dekat menuju kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik regional yang berlangsung berbulan-bulan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) meningkatkan tekanan terhadap Hezbollah. Dalam pernyataannya di Telegram, Netanyahu menegaskan Israel “tidak akan mengangkat kaki dari pedal gas” sampai kelompok tersebut dihancurkan.
Operasi militer diperluas ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kawasan Nabatieh. Media Israel melaporkan IDF mulai bergerak melewati batas operasi yang sebelumnya mereka tetapkan sendiri beberapa pekan terakhir. Perintah evakuasi baru juga dikeluarkan untuk sedikitnya 10 desa di wilayah tersebut.
Serangan drone Israel pada Selasa menewaskan sedikitnya tiga orang di sejumlah jalan di Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut lebih dari 3.000 orang tewas sejak kampanye militer Israel dimulai pada 2 Maret.
Operasi itu berlangsung meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih berlaku sejak 16 April dan telah diperpanjang selama 45 hari pada 15 Mei.
Hezbollah dalam beberapa pekan terakhir juga mengubah pola serangannya. Kelompok itu mulai lebih sering menggunakan drone kamikaze first-person-view (FPV) berbiaya murah yang sebagian dikendalikan memakai kabel serat optik, sehingga lebih sulit diganggu sistem elektronik Israel.
Lembaga riset Israel, Alma Center, mencatat lebih dari 80 peluncuran drone peledak ke arah pasukan IDF dalam beberapa pekan terakhir. Serangan dilakukan secara bergelombang menggunakan beberapa drone sekaligus, pola yang disebut mengadopsi taktik perang Rusia-Ukraina.
Di tengah eskalasi itu, perundingan antara AS dan Iran justru bergerak maju. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan nota kesepahaman terkait “perdamaian” sebagian besar telah dinegosiasikan.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui proses pembicaraan, kerangka kesepakatan itu mencakup penghentian resmi perang, pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, serta negosiasi lanjutan selama 60 hari mengenai program nuklir Iran.
Iran mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan, tetapi membantah kesepakatan final akan segera diteken. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut masih ada “ketidakstabilan yang sudah melembaga” dalam pengambilan keputusan AS.
Kesepakatan yang sedang dibahas itu memantik kritik keras dari Israel. Pemimpin oposisi Yair Lapid menyebut rancangan tersebut “buruk bagi Israel, buruk bagi kawasan, buruk bagi warga Iran”.
Netanyahu menegaskan dirinya dan Trump sepakat bahwa kesepakatan apa pun harus benar-benar menghilangkan ancaman nuklir Iran, termasuk dengan membongkar fasilitas pengayaan uranium dan memindahkan seluruh stok uranium yang sudah diperkaya keluar dari Iran.
Menteri Energi Israel Eli Cohen juga menolak kemungkinan kompromi yang dinilai masih menyisakan ancaman keamanan bagi Israel.
“Israel tidak akan terikat oleh kesepakatan apa pun yang tidak mencegah semua ancaman yang dihadapinya — nuklir, rudal balistik, dan pendanaan bagi organisasi teroris,” kata Cohen seperti dikutip Bloomberg.
Putaran baru negosiasi Israel-Lebanon yang dimediasi AS dijadwalkan berlangsung awal Juni.

0Komentar