Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (tengah) mengawasi uji peluncuran rudal hipersonik di Pyongyang, Korea Utara, pada 4 Januari 2026. | KCNA/KNS/AP.

Korea Utara menguji sejumlah sistem persenjataan baru di bawah pengawasan langsung Kim Jong Un, termasuk rudal jelajah taktis dengan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan atau AI. Media pemerintah Korea Utara menyebut rudal itu mampu menghantam sasaran dalam radius hingga 100 kilometer, membuat sebagian wilayah Seoul berada dalam jangkauannya.

Laporan Korean Central News Agency (KCNA) yang dirilis Rabu menyebut pengujian dilakukan pada Selasa sebagai bagian dari program modernisasi artileri dan rudal Korea Utara. Selain rudal jelajah berpanduan AI, Pyongyang juga menguji rudal balistik taktis dan roket artileri peluncur ganda jarak jauh.

KCNA mengatakan pengujian difokuskan pada evaluasi daya ledak “hulu ledak misi khusus”, akurasi sistem kendali terminal berbasis AI, serta kemampuan navigasi mandiri dan pemetaan topografi pada rudal jelajah tersebut.

Menurut media pemerintah itu, sistem baru tersebut telah ditingkatkan agar “sesuai dengan kondisi peperangan modern guna meningkatkan penerapannya dalam pertempuran”.

Kim disebut menyatakan “kepuasan yang besar” atas hasil uji coba itu. Ia juga memastikan rudal jelajah berpanduan AI akan ditempatkan di unit-unit artileri dekat perbatasan Korea Selatan.

Peluncuran rudal itu terdeteksi oleh militer Korea Selatan pada Selasa sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan beberapa proyektil ditembakkan dari kawasan Jongju di Provinsi Phyongan Utara menuju Laut Kuning.

Militer Korea Selatan memperkirakan proyektil tersebut menempuh jarak sekitar 80 kilometer. Otoritas Seoul bersama militer Amerika Serikat masih menganalisis detail jenis dan kemampuan rudal yang diuji.

Ini menjadi peluncuran rudal pertama Korea Utara sejak 19 April lalu, ketika Pyongyang menembakkan beberapa rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur.

Seoul bagian tengah yang dihuni sekitar 10 juta penduduk berada kurang dari 100 kilometer dari Zona Demiliterisasi yang memisahkan dua Korea. Dalam beberapa bulan terakhir, Pyongyang terus memperkuat persenjataan konvensional di wilayah perbatasan.

Awal Mei lalu, Kim juga menginspeksi pabrik amunisi yang memproduksi self-propelled howitzer kaliber 155 mm dengan jangkauan lebih dari 60 kilometer. Sistem artileri itu disebut akan ditempatkan di dekat perbatasan selatan.

Korea Utara diketahui memasok rudal balistik dan roket artileri kepada Rusia sejak akhir 2023 untuk digunakan dalam perang di Ukraina. Data pertempuran dari penggunaan senjata tersebut diyakini membantu Pyongyang meningkatkan kemampuan sistem persenjataannya.

KCNA menyebut rangkaian uji coba terbaru itu merupakan bagian dari target lima tahun pengembangan pertahanan nasional Korea Utara.