Kanselir Jerman Friedrich Merz. | ANADOLU AGENCY

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengusulkan skema baru agar Ukraina dapat lebih dekat dengan Uni Eropa tanpa harus menunggu proses aksesi penuh yang panjang. Dalam proposal itu, Kyiv diusulkan menjadi “anggota asosiasi” Uni Eropa dengan akses ke sejumlah lembaga utama blok tersebut, tetapi tanpa hak suara.

Laporan AFP pada Kamis (21/5/2026) menyebut proposal itu memungkinkan Ukraina menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa dan memiliki perwakilan di Komisi Eropa maupun Parlemen Eropa. Namun, perwakilan Ukraina tidak dapat ikut menentukan keputusan dalam pemungutan suara.

Merz menyampaikan gagasan tersebut melalui surat kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa. Ia menilai langkah itu bisa menjadi jalan tengah di tengah mandeknya proses keanggotaan penuh Ukraina akibat perang dan kompleksitas politik di dalam Uni Eropa.

Menurut Merz, klausul bantuan timbal balik Uni Eropa juga dapat diterapkan untuk Ukraina melalui komitmen politik negara-negara anggota. Kyiv juga diusulkan memperoleh akses terhadap sebagian anggaran Uni Eropa sebagai bagian dari penguatan jaminan keamanan.

“Jelas bahwa kita tidak akan dapat menyelesaikan proses aksesi dalam waktu singkat, mengingat banyaknya rintangan serta kompleksitas politik dari proses ratifikasi,” tulis Merz dalam surat tersebut.

Ia menambahkan, “Yang saya bayangkan adalah solusi politik yang secara substansial membawa Ukraina lebih dekat ke Uni Eropa dan lembaga-lembaga intinya segera.”

Usulan itu muncul ketika Ukraina terus mendorong percepatan keanggotaan di Uni Eropa sambil menghadapi invasi Rusia yang berlangsung sejak 2022. Pemerintah di Kyiv memandang integrasi dengan Uni Eropa sebagai bagian penting dari keamanan jangka panjang dan proses pemulihan negara.

Dalam keterangannya yang dikutip Reuters, Merz menyebut proposal itu dirancang khusus untuk situasi Ukraina sebagai negara yang masih berada dalam perang.

“Usulan saya mencerminkan situasi khusus Ukraina, sebuah negara yang dilanda perang. Ini akan membantu memfasilitasi perundingan perdamaian yang sedang berlangsung sebagai bagian dari solusi perdamaian yang dinegosiasikan,” jelasnya.

Merz juga mengatakan gagasan tersebut penting bagi keamanan kawasan Eropa secara keseluruhan. Ia berencana membahasnya dengan para pemimpin Eropa lain dan membentuk gugus tugas khusus untuk merinci skema tersebut.

“Tujuan saya adalah untuk segera mencapai kesepakatan, dan membentuk Gugus Tugas khusus untuk membahas detailnya,” tulis Merz.

Meski begitu, proposal tersebut diperkirakan memantik perdebatan di internal Uni Eropa maupun di Ukraina sendiri. Sejumlah pihak di Kyiv khawatir status sementara tanpa hak suara justru membuat Ukraina tertahan di jalur tengah dan menjauh dari target menjadi anggota penuh.

Merz menegaskan Jerman tetap mendukung keanggotaan penuh Ukraina di Uni Eropa. Ia juga mendesak agar seluruh kelompok negosiasi aksesi segera dibuka.

Para pejabat Eropa selama ini menilai kecil kemungkinan Ukraina bisa menjadi anggota penuh Uni Eropa dalam beberapa tahun ke depan. Meski demikian, target 2027 sempat masuk dalam rancangan proposal perdamaian 20 poin yang dibahas antara Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia.