Ilustrasi Duisburg Intermodal Terminal (DIT) yang berlokasi di Gaterweg 201, 47229 Duisburg, Jerman. EPA

China memperluas kebijakan tarif nol untuk 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, dengan satu pengecualian: Eswatini, yang masih bersekutu dengan Taiwan. Langkah ini memberi akses bebas bea ke pasar China dan diklaim sebagai inisiatif sepihak terbesar dari ekonomi besar ke satu kawasan.

Dampaknya langsung terlihat. Pada 1 Mei dini hari, 24 metrik ton apel dari Afrika Selatan menjadi pengiriman pertama yang masuk ke Shenzhen tanpa bea masuk. Tarif yang sebelumnya 10% dipangkas menjadi nol, membuat harga lebih kompetitif di pasar China.

Kebijakan ini melanjutkan langkah Desember 2024 yang menghapus tarif untuk 33 negara paling kurang berkembang di Afrika. Kini, 20 negara tambahan termasuk Kenya, Mesir, dan Nigeria ikut masuk skema. Fasilitas ini berlaku hingga 30 April 2028, sambil Beijing menyiapkan negosiasi perjanjian dagang jangka panjang.

Kementerian Perdagangan China menyebut produk seperti kakao dari Pantai Gading dan Ghana, kopi serta alpukat dari Kenya, hingga jeruk dan anggur dari Afrika Selatan akan mendapat dorongan. 

Tarif sebelumnya berada di kisaran 8% hingga 30%. Seorang importir anggur Afrika Selatan memperkirakan harga eceran bisa turun 15%–20%.

Langkah ini datang di tengah tekanan proteksionisme Amerika Serikat dan upaya China menguatkan posisi di Afrika. Nilai perdagangan kedua pihak mencapai US$348 miliar pada 2025, menurut pejabat Afrika Selatan.

Pengecualian Eswatini membawa pesan diplomatik. Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan, Chen Ming-chi, mengatakan dampaknya akan “sangat kecil, hampir tidak terasa,” namun mengakui ada “dampak psikologis”

Analis menilai langkah ini juga menekan ruang diplomatik Taiwan di Afrika. Seoul Economic Daily menyebutnya sebagai sinyal politik yang jelas.

Di Afrika, respons cenderung positif. Ricky Mukonza dari Tshwane University of Technology menilai China sedang “menetapkan tolok ukur baru dalam mendukung industrialisasi di Dunia Selatan.” Pelaku usaha di Rwanda mulai bersiap, sementara Mozambik mendorong ekspor pertanian.

Namun, sejumlah pengamat mengingatkan risiko. Defisit perdagangan Afrika dengan China masih besar, dan sebagian ekspor utama sebenarnya sudah bertarif rendah. The Table Media mencatat kebijakan ini bisa lebih menguntungkan kebutuhan China, sementara tanpa investasi pengolahan, Afrika berisiko tetap menjadi pemasok bahan mentah.