konsep pesawat hipersonik yang dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). 

Tim peneliti gabungan dari Universitas Waseda dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) berhasil melakukan uji pembakaran perdana mesin jet untuk pesawat hipersonik berkecepatan Mach 5 pada April 2026. Bila teknologi ini terwujud secara komersial, penerbangan Tokyo-Amerika Serikat yang kini memakan waktu 10 hingga 15 jam bisa dipangkas menjadi hanya dua jam.

Uji coba digelar di Pusat Antariksa Kakuda milik JAXA di Prefektur Miyagi, dengan mensimulasikan kondisi terbang di ketinggian 25 kilometer dan kecepatan Mach 5. Di ketinggian itu, tekanan atmosfer hanya seperseratus dari tekanan permukaan laut. 

Tim menggunakan pesawat eksperimental sepanjang 2 meter, sekitar seperseratus lima puluh dari ukuran pesawat penumpang yang direncanakan. Hasilnya, pengoperasian mesin dan ketahanan panas berfungsi hampir persis seperti yang dirancang.

Proyek ini sudah dirancang sejak 2013. Tetsuya Sato, profesor Universitas Waseda yang tergabung dalam tim, menegaskan bahwa hasil ini baru permulaan. "Hasil ini masih merupakan langkah pertama. Impian kami adalah menghubungkannya dengan demonstrasi penerbangan," ujar Sato.

Pengembangan pesawat hipersonik memang jauh lebih panjang dibanding pesawat konvensional. Hideyuki Taguchi, profesor dari Tokyo University of Science sekaligus mantan eksekutif senior riset dan pengembangan JAXA hingga tahun fiskal 2025, menjelaskan bahwa prosesnya membutuhkan dua tahap demonstrasi sebelum pesawat penumpang bisa beroperasi. 

"Mengembangkan pesawat konvensional biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Oleh karena pengembangan pesawat penumpang hipersonik memerlukan dua tahap demonstrasi, pesawat eksperimental diikuti oleh pesawat penumpang. Kami berharap pengembangan ini dapat selesai dalam waktu sekitar 20 tahun," kata Taguchi.

Tim menargetkan teknologi ini siap digunakan secara praktis pada dekade 2040-an.

Pesawat yang dikembangkan nantinya akan melaju sekitar 5.400 kilometer per jam di ketinggian 25 kilometer, lebih dari dua kali lipat ketinggian jelajah pesawat komersial biasa. Jika dilengkapi mesin roket, pesawat bahkan bisa menjangkau ketinggian 100 kilometer atau batas luar angkasa. Keunggulan lain, pesawat ini tetap bisa lepas landas dan mendarat secara horizontal sehingga bisa menggunakan landasan pacu bandara biasa.

Dunia sebelumnya pernah mengenal pesawat penumpang supersonik Concorde yang beroperasi hingga 2003, namun kecepatannya hanya mencapai Mach 2, jauh di bawah target Mach 5 yang dikejar Jepang.

Tantangan teknisnya tidak kecil. Gelombang kejut atau shock waves yang terbentuk di sekitar badan pesawat memaksa mesin beroperasi stabil di tengah aliran udara yang sangat kompleks. Kompresi udara yang ekstrem juga menuntut sejumlah bagian pesawat tahan terhadap suhu hingga 1.000 derajat Celsius.