MT Patriotic, sebuah kapal tanker minyak mentah tipe Suezmax. Foto ini diambil saat kapal sedang berlayar di Teluk Suruga, Jepang, dengan latar belakang Gunung Fuji yang ikonik. JMU

Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz mulai mengubah peta perdagangan energi dunia. Jepang menjadi salah satu negara yang beralih ke minyak Rusia, di tengah menyusutnya pasokan global dan lonjakan harga yang merembet ke berbagai sektor.

Lebih dari dua bulan setelah jalur pelayaran di selat strategis itu praktis tertutup, dampaknya kini terasa luas. Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$114 per barel pada akhir April dan bergerak mendekati US$118, dipicu kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran serta berlanjutnya blokade laut oleh AS.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah, dengan pengurangan pasokan global sekitar 7–10% meski berbagai jalur alternatif mulai diupayakan.

Negara-negara pengimpor utama kini berpacu mencari sumber energi baru. Jepang, yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk Persia, mulai menerima pasokan dari proyek Sakhalin-2 di Rusia. Pengiriman ini menjadi impor pertama sejak krisis Hormuz pecah.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya masih mampu mengamankan sekitar 60% kebutuhan minyak untuk Mei melalui jalur yang melewati kawasan tersebut. Untuk menutup kekurangan, Jepang juga melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan minyak strategisnya sebagai bagian dari koordinasi dengan IEA.

India menghadapi tekanan serupa. Data pelacak pengiriman Kpler menunjukkan impor minyak mentah negara itu turun menjadi sekitar 4,4 juta barel per hari pada April, atau 85% dibandingkan Februari. Rusia kini menjadi pemasok terbesar dengan sekitar 1,6 juta barel per hari, disusul Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Kenaikan harga energi cepat terasa di tingkat konsumen. Di Irak, harga satu karton telur melonjak dari US$39,80 menjadi US$57,40, menurut The Media Line. Di AS, Departemen Pertanian memperkirakan harga pangan naik 3,6% sepanjang 2026, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terpukul. Harga bahan bakar jet hampir dua kali lipat sejak krisis dimulai, lapor NPR

Maskapai global merespons dengan menambah biaya bahan bakar. Virgin Atlantic menggandakan surcharge, Air France-KLM menambahkan hingga €100 untuk rute jarak jauh, sementara IndiGo mengenakan tambahan hingga 10.000 rupee untuk penerbangan internasional.

Gangguan operasional juga meluas. Lebih dari 30.000 penerbangan yang melintasi Asia Barat dibatalkan, dengan total kerugian maskapai diperkirakan melampaui US$3 miliar.

Efek lanjutan mulai terasa di sektor lain. Industri pariwisata dan perhotelan di sejumlah negara, termasuk AS, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Inggris, Jerman, India, dan Thailand, ikut tertekan. Goldman Sachs memperkirakan dampak ekonomi di AS saja dapat menghilangkan sekitar 10.000 lapangan kerja setiap bulan.

Di laut, sekitar 2.000 kapal masih tertahan di kawasan Teluk. Laporan Al Jazeera menyebut proses pembersihan ranjau diperkirakan memakan waktu hingga enam bulan, menandakan gangguan terhadap jalur distribusi energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.