Serangan Israel terhadap sebuah mobil di Khan Younis menewaskan Naseem al-Kalazani. AP PHOTO

Serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Rabu menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk seorang pejabat kepolisian yang dikelola Hamas. Putra kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, juga menjadi korban dalam salah satu serangan di Kota Gaza dan dilaporkan mengalami luka kritis.

Menurut laporan Reuters yang mengutip tenaga medis dan sumber Hamas, serangan di kawasan Daraj, Kota Gaza, menghantam Azzam al-Hayya, putra Khalil al-Hayya yang selama ini memimpin perundingan tidak langsung Hamas dengan Israel dari pengasingannya. Sejumlah media afiliasi Hamas melaporkan Azzam tewas di lokasi, tetapi sumber medis menyebut kondisinya kritis.

Serangan itu terjadi ketika gencatan senjata yang dimediasi di Sharm el-Sheikh pada Oktober 2025 terus berada di bawah tekanan. Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan melalui operasi militer yang nyaris berlangsung setiap hari sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober tahun lalu.

Di Khan Younis, serangan terpisah menewaskan Naseem al-Kalazani, kolonel kepolisian Hamas yang memimpin unit anti-narkotika. Kendaraannya dihantam di dekat kawasan al-Mawasi di selatan Gaza. Sedikitnya 17 orang lainnya dilaporkan terluka.

Militer Israel mengatakan operasi mereka ditujukan untuk menggagalkan rencana serangan Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lain terhadap pasukan Israel. Namun hingga Rabu malam, militer belum memberikan komentar khusus terkait serangan yang mengenai putra Khalil al-Hayya.

Hamas mendesak negara-negara mediator dan penjamin gencatan senjata segera turun tangan. Kelompok itu menyebut serangan terbaru Israel sebagai “pelanggaran nyata” terhadap kesepakatan yang sebelumnya disepakati kedua pihak.

Khalil al-Hayya merupakan salah satu tokoh senior Hamas yang memimpin pembicaraan mengenai masa depan Gaza pascaperang. Azzam al-Hayya menjadi putra keempat dari pemimpin Hamas yang tewas atau menjadi target operasi Israel dalam beberapa bulan terakhir. Putra lainnya, Hammam al-Hayya, dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Doha, Qatar, pada September 2025.

Ketegangan di Gaza kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah pejabat militer Israel secara terbuka menyatakan bahwa kembalinya operasi tempur skala penuh “hampir tidak bisa dihindari”. Pada saat yang sama, militer Israel disebut terus memperluas wilayah yang mereka kuasai hingga mencakup sekitar 59% Jalur Gaza.

Otoritas kesehatan di Gaza menyebut sedikitnya 830 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata berlaku. Israel menyatakan empat tentaranya juga tewas dalam periode yang sama akibat serangan militan Palestina.

Kelompok pemantau Genocide Watch pada awal Mei melaporkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan sedikitnya 765 warga Palestina tewas dan 2.140 lainnya terluka sejak gencatan senjata dimulai.