![]() |
| Donald Trump, presiden AS. | JOYCE N. BOGHOSIAN/WHITE HOUSE |
Penghentian mendadak operasi maritim Project Freedom oleh Presiden Donald Trump disebut dipicu tekanan dari Arab Saudi yang mengancam menutup akses militer Amerika Serikat ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan dan wilayah udara Saudi.
Informasi itu disampaikan dua pejabat AS kepada NBC News, berbeda dengan penjelasan publik Trump yang menyebut keputusan tersebut terkait peluang diplomasi dengan Iran.
Project Freedom diumumkan Trump pada Minggu lalu sebagai operasi angkatan laut AS untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Jalur itu menjadi titik krusial perdagangan energi global dan beberapa pekan terakhir diwarnai bentrokan antara Iran dan negara-negara Barat.
Menurut para pejabat AS, pengumuman operasi tersebut memantik kemarahan Riyadh karena dilakukan tanpa koordinasi yang cukup dengan sekutu Teluk. Pemerintah Saudi kemudian menyampaikan bahwa pesawat militer AS tidak akan diizinkan beroperasi dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan di tenggara Riyadh maupun melintasi wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi tersebut.
Trump dilaporkan sempat berbicara langsung dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Namun percakapan itu gagal meredakan ketegangan sehingga Gedung Putih memilih menunda operasi demi menjaga akses strategis militer AS di kawasan.
Keputusan itu datang cepat. Komando Pusat AS sebelumnya menyatakan dua kapal berbendera AS telah berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin sebagai bagian dari Project Freedom. Militer AS juga disebut tengah menyiapkan pengawalan tambahan untuk kapal lain sebelum operasi akhirnya dihentikan sekitar 36 jam setelah diumumkan.
Penundaan operasi itu sempat menimbulkan kebingungan di Washington. Menteri Perang Pete Hegseth dan sejumlah pejabat keamanan nasional Trump diketahui masih mempromosikan operasi tersebut dalam pengarahan publik di Pentagon dan Gedung Putih pada Selasa, beberapa jam sebelum Trump mengumumkan penghentian sementara.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan operasi dihentikan “berdasarkan permintaan Pakistan dan negara-negara lain” guna memberi ruang bagi pembicaraan dengan Iran.
“Untuk sementara waktu kami akan menghentikannya untuk melihat apakah Perjanjian dapat diselesaikan dan ditandatangani,” tulis Trump. Ia juga menegaskan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap berjalan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif kemudian menyampaikan terima kasih kepada Trump atas apa yang ia sebut sebagai “kepemimpinan yang berani” dalam membuka ruang diplomasi
Di saat bersamaan, ketegangan di kawasan Teluk masih berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran tiba di Beijing pada Selasa untuk bertemu pejabat China membahas perkembangan regional dan sanksi Barat terhadap Teheran.
Dari Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memperingatkan negara mana pun yang membantu Iran menghindari sanksi AS akan menghadapi sanksi sekunder. Trump juga kembali melontarkan ancaman militer terhadap Teheran jika pembicaraan gagal mencapai kesepakatan.
“Pengeboman akan dilanjutkan, dan sayangnya akan dilakukan dalam skala dan intensitas yang jauh lebih besar dari sebelumnya,” kata Trump.
Analis Timur Tengah Natasha Turak kepada Al Jazeera mengatakan negara-negara Teluk sejak awal tidak sepenuhnya nyaman dengan pengerahan militer tambahan AS di Selat Hormuz.
“Ada kekhawatiran bahwa satu lapis militerisasi lagi di sini bisa menjadi pemicu eskalasi lebih lanjut,” ujarnya.

0Komentar