Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menghadiri pertemuan menteri luar negeri BRICS di Bharat Mandapam di New Delhi, India, 14 Mei 2026. | REUTERS


Pertemuan menteri luar negeri negara-negara BRICS di New Delhi, India, Kamis, dibayangi perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang meletus sejak 28 Februari. Iran mendesak blok tersebut mengeluarkan kecaman tegas terhadap Washington dan Tel Aviv, namun perbedaan sikap antaranggota membuat pembahasan berlangsung alot.

Forum dua hari di Bharat Mandapam itu dipimpin Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan dihadiri delegasi dari 11 negara anggota BRICS, termasuk Iran, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Rusia, Brasil, dan Ethiopia. Konflik di Timur Tengah langsung menggeser fokus pembahasan dari agenda awal seperti perdagangan mata uang lokal dan kerja sama ekonomi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjadi salah satu tokoh paling vokal dalam sidang tersebut. Di hadapan para delegasi, ia menuduh AS dan Israel melakukan “agresi brutal dan melanggar hukum” terhadap Iran.

Araghchi meminta BRICS mengambil posisi bersama untuk mengecam tindakan kedua negara itu.

“Pertempuran yang dilancarkan Iran adalah demi membela kita semua — demi dunia baru yang sedang kita bangun bersama,” kata Araghchi.

Ia juga menegaskan Teheran tidak akan tunduk pada tekanan asing. “Iran tidak akan pernah tunduk pada tekanan atau ancaman apa pun,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa negaranya akan “membalas bahasa rasa hormat.”

Desakan Iran itu menempatkan India dalam posisi sulit. New Delhi sejauh ini menghindari kritik langsung terhadap Washington, meski tetap menyoroti dampak perang terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.

Dalam pidato pembukaannya, Jaishankar menekankan pentingnya jalur perdagangan energi internasional tetap terbuka. Ia menyebut “aliran maritim yang aman dan tanpa hambatan” di Selat Hormuz dan Laut Merah sangat penting bagi perekonomian dunia.

Jaishankar juga menyerukan agar negara-negara menghindari penggunaan sanksi sepihak yang bertentangan dengan hukum internasional.

Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena Iran menerapkan blokade hampir penuh di jalur pelayaran tersebut sejak perang pecah. Menurut laporan BBC, kondisi itu memicu lonjakan harga minyak global. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di bawah US$70 per barel melonjak menembus US$100 pada Maret.

Perpecahan sikap di internal BRICS makin terlihat sejak blok itu diperluas dengan masuknya Iran, Indonesia, Mesir, Ethiopia, dan UEA. Rusia, Brasil, dan China secara terbuka mengkritik serangan AS-Israel, sedangkan India memilih lebih hati-hati. 

UEA, yang memiliki hubungan tegang dengan Teheran dalam konflik regional, disebut menjadi salah satu pihak yang keberatan terhadap rumusan pernyataan bersama.

Perbedaan itu membuat negosiasi deklarasi penutup berlangsung rumit. Sejumlah diplomat yang mengikuti pembahasan menyebut perdebatan paling tajam terjadi antara Iran dan UEA terkait bahasa yang akan digunakan untuk menyinggung perang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov hadir langsung dalam forum tersebut. China mengirim utusan khusus karena Presiden Xi Jinping sedang menerima Presiden Donald Trump di Beijing untuk pembicaraan bilateral.

Mengutip Associated Press, para menteri luar negeri BRICS awalnya dijadwalkan membahas penguatan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS. Namun eskalasi konflik Iran membuat isu keamanan dan geopolitik mendominasi hampir seluruh sesi pembicaraan.

Media Jerman DW sebelumnya menilai BRICS akan kesulitan menyampaikan posisi bersama yang tegas karena kepentingan politik dan ekonomi antaranggotanya semakin beragam setelah ekspansi blok dilakukan.