Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyepakati kerangka kerja sama energi bilateral yang mencakup pertukaran cadangan minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG), dalam KTT yang digelar di kota Andong, Selasa (19/5).
Kesepakatan itu meliputi pengaturan swap minyak mentah dan LNG, penimbunan bersama, serta penguatan cadangan energi di kawasan Indo-Pasifik. Kedua pemimpin juga mengumumkan rencana memperkuat rantai pasokan LNG berikut sistem pendukungnya, sebagaimana tertuang dalam pernyataan pers bersama yang dirilis usai KTT.
Dorongan utama di balik kesepakatan ini adalah kekhawatiran bersama soal ketahanan energi menyusul terganggunya Selat Hormuz akibat konflik yang meluas di Timur Tengah. Korea Selatan menggantungkan sekitar 70% pasokan minyak mentahnya pada jalur itu, ditambah 18% impor LNG-nya.
Ketergantungan Jepang bahkan lebih besar, dengan lebih dari 90% minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah dan sekitar 75% di antaranya melewati Hormuz.
Gangguan di selat itu memantik urgensi yang mendorong kedua negara mendahulukan kepentingan geopolitik di atas gesekan sejarah yang belum sepenuhnya reda. Pada Maret lalu, Korea Gas Corporation dan JERA dari Jepang, dua importir LNG terbesar di dunia, menandatangani nota kesepahaman yang menetapkan kerangka pertukaran kargo serta koordinasi operasi pengiriman dan terminal.
KTT di Andong merupakan pertemuan keenam antara Lee dan Takaichi. Selain energi, keduanya menyepakati perluasan kerja sama di bidang AI dan pembangunan rantai pasokan mineral-mineral penting.
Kerangka energi ini dibangun di atas inisiatif POWERR Asia Jepang, singkatan dari Partnership On Wide Energy and Resources Resilience, yang diperkenalkan Takaichi pada April lalu untuk negara-negara Asia Tenggara.
Inisiatif tersebut mengusulkan penggunaan bersama tangki penyimpanan minyak bumi serta dukungan finansial senilai US$10 miliar melalui Japan Bank for International Cooperation guna membantu negara-negara Asia dalam pengadaan minyak mentah dan produk minyak bumi.
Keduanya juga berjanji memperluas kerja sama rantai pasokan energi ke negara-negara Asia lainnya, sekaligus menegaskan kembali komitmen penguatan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat.
The Korea Herald melaporkan bahwa kunjungan timbal balik ke kampung halaman antara kedua pemimpin, Lee sebelumnya telah berkunjung ke kampung halaman Takaichi di Prefektur Nara pada Januari lalu, menandai dimensi personal yang tidak lazim dalam hubungan bilateral yang selama ini diwarnai warisan penjajahan Jepang atas Korea pada 1910-1945.

0Komentar