Terminal LPG Tanjung Sekong yang terletak di Kota Cilegon, Banten.


Indonesia resmi menawarkan diri sebagai lokasi hub storage minyak bersama negara-negara ASEAN, salah satunya di Sumatera. Tawaran itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, 7–8 Mei 2026.

Forum itu menyepakati bahwa negara-negara kawasan perlu membangun kerja sama ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik yang kian memantik gangguan rantai pasok. Dari situ muncul gagasan membangun hub storage cadangan minyak bersama untuk ASEAN.

Bahlil mengatakan Indonesia siap menjadi tuan rumah fasilitas tersebut. "Di Asia Tenggara, kita kemarin merumuskan bahwa kita bikin ada hub untuk storage cadangan minyak untuk ASEAN. Kita akan membangun storage di mana saja, tapi kemarin saya tawarkan untuk di Indonesia," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).

Jika tawaran itu disetujui, Indonesia akan berperan sebagai pemasok minyak ke negara-negara Asia Tenggara. Pemerintah kini tengah menyusun kajian kelayakan untuk fasilitas penyimpanan raksasa di Sumatera, sekaligus merancang pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus di lokasi yang sama.

"Kita rencana akan bangun kawasan itu di Sumatra. Kita akan bikin Kawasan Ekonomi Khusus yang pada akhirnya kemudian itu menjadi cadangan penyangga nasional kita," kata Bahlil.

Gagasan ini muncul bukan tanpa alasan. Ketidakstabilan geopolitik global mendorong hampir setiap negara membentengi kepentingan energi domestiknya masing-masing. Presiden Prabowo Subianto, menurut Bahlil, mendorong ASEAN untuk merespons tekanan itu lewat konsolidasi kawasan bukan justru saling bersaing.

"Bapak Presiden Prabowo mengajak ASEAN untuk kita melakukan satu kerja sama kawasan yang saling menguntungkan, khususnya di sektor energi. Karena, di dalam kondisi geopolitik yang seperti ini, hampir semua negara, hampir semua kawasan itu berpikir bagaimana memproteksi kepentingan internal negara dan internal kawasan," kata Bahlil.