Scott Bessent, berbicara dalam sebuah acara kampanye untuk calon presiden dari Partai Republik dan mantan Presiden AS, Donald Trump, di Asheville, North Carolina, AS, 14 Agustus 2024. | JONATHAN DRAKE/REUTERS

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan telah merampas aset mata uang kripto milik Iran senilai hampir US$1 miliar sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pengumuman itu disampaikan Menteri Keuangan Scott Bessent di Reagan National Economic Forum di Simi Valley, California, Jumat.

"Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar," kata Bessent kepada Fox Business Network.

Angka tersebut merupakan total kumulatif yang terkumpul secara bertahap, bukan hasil satu operasi tunggal. Pada akhir April, Bessent sempat melaporkan jumlah yang disita baru mendekati US$500 juta, termasuk pembekuan US$344 juta dalam bentuk USDT di jaringan blockchain Tron.

Perampasan ini masuk dalam kerangka Operation Economic Fury, program tekanan ekonomi utama pemerintahan Trump yang menyasar berbagai jalur pemasukan Iran, mulai dari penjualan minyak, jaringan perbankan bayangan, entitas pelayaran, perantara asing, hingga jalur kripto yang diduga dipakai untuk menghindari sanksi internasional.

Bessent menyebut sebagian pemilik aset bahkan belum menyadari hartanya sudah disita. "Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik saat ini, dan sadar kalau mereka tidak sadar dompet mereka sudah diambil," ujarnya.

Selain menyita aset digital, AS juga berkoordinasi dengan sejumlah negara Eropa untuk merampas properti fisik yang terhubung dengan Teheran. 

"Kami bekerja sama dengan sekutu-sekutu di seluruh Eropa untuk merampas vila-vila, rumah-rumah, dan properti," tutur Bessent. Ia menegaskan aset-aset tersebut berasal dari dana yang dicuri dari rakyat Iran sendiri.

AS menaksir Iran selama ini berhasil mengeruk sekitar US$400 hingga US$500 juta per bulan lewat pengelakan sanksi. 

Bessent menyebut fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg sudah berhenti beroperasi menyusul blokade laut AS, sementara serangan Iran terhadap negara-negara Teluk justru berbalik merugikan Teheran secara diplomatik karena negara-negara kawasan itu kini aktif membantu pembekuan rekening bank asal Iran.

Kondisi ekonomi dalam negeri Iran digambarkan Bessent mendekati titik kritis. Sekitar 40 hingga 50% prajurit Iran disebut tidak menerima gaji, aparat kepolisian tidak melapor ke pos, inflasi diperkirakan melampaui 200%, dan pemerintah sudah terpaksa mendistribusikan kupon pangan kepada warganya.