![]() |
| Suasana bursa kerja besar di Provinsi Hunan, Tiongkok, yang bertujuan menarik talenta muda. DAILY CHINA |
Krisis ketenagakerjaan anak muda tengah menggerogoti Asia. Laporan Morgan Stanley Asia Economics bertajuk Asia Faces Rising Youth Unemployment Challenge yang dirilis Oktober 2025 memotret kondisi yang mengkhawatirkan di sejumlah negara besar, di mana pengangguran kelompok usia 15-24 tahun melayang di kisaran 4% hingga 18%.
India memimpin daftar dengan angka 17,6%, disusul Indonesia di posisi kedua dengan 17,3%, dan Tiongkok di urutan ketiga dengan 16,5%, Jepang menjadi yang terendah dengan 4,2%.
Data dikumpulkan dari CEIC, Haver, dan Morgan Stanley Research. Hasilnya bukan sekadar statistik. "Pertumbuhan ekonomi di beberapa negara besar Asia tidak mampu menciptakan lapangan kerja baru yang cukup bagi jutaan anak muda," tulis laporan tersebut, dikutip Business Times.
Di Indonesia, akar masalahnya mengarah ke satu titik. Rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) melorot dari 32% sebelum pandemi Covid-19 menjadi hanya 29% pada pertengahan 2025. Morgan Stanley menyebutnya sebagai tekanan struktural yang terus menghimpit penciptaan lapangan kerja formal.
"Latar belakang saat ini yang ditandai dengan sentimen korporasi yang lemah di tengah ketidakpastian kebijakan domestik menyarankan bahwa siklus belanja modal akan tetap lemah untuk waktu yang lebih lama, yang akan menimbulkan tekanan berkelanjutan pada penciptaan lapangan kerja," kata lembaga keuangan itu dalam laporannya.
Angka Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 mencatat 7,28 juta orang menganggur di Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 3,6 juta adalah anak muda. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 menggambarkan kesenjangannya lebih gamblang lagi: 7,47 juta pencari kerja, hanya 1,82 juta lowongan tersedia.
![]() |
| Penjual alat rumah tangga berkeliling menawarkan dagangan di kawasan Tambora, Jakarta Barat, Senin (28/9/2020). UGM |
Kondisi ini diperparah oleh dominasi sektor informal. Sebanyak 59% pekerjaan baru dalam satu dekade terakhir di Indonesia berada di sektor ini, dengan upah yang kerap di bawah standar minimum. Rata-rata upah buruh tercatat hanya Rp3,09 juta per bulan, tumbuh 1,78%, di bawah laju inflasi.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam acara Kajian Tengah Tahun Indef 2025 di Jakarta memaparkan rincian yang tak kalah mencengangkan. Dari total pengangguran, terdapat 1.010.652 lulusan universitas yang belum bekerja, 177.399 lulusan diploma, 2.038.893 lulusan SMA, dan 1.628.517 lulusan SMK.
Ekonom CSIS Indonesia Adinova Fauri membaca fenomena ini dari sisi berbeda. "Banyak orang memilih untuk berada di luar pasar tenaga kerja daripada harus bekerja dengan gaji di bawah ekspektasi," katanya. "Pekerjaan yang layak juga tidak tersedia secara luas, sehingga orang-orang beralih ke sektor informal, yang memiliki produktivitas dan perlindungan yang lebih rendah," lanjutnya.
![]() |
| Foto yang diambil pada 21 Maret 2021 ini menunjukkan lulusan universitas menghadiri pameran karir di Wuhan, di provinsi Hubei, Tiongkok tengah. | China OUT Foto oleh STR / AFP |
Bank Dunia dalam laporan Asia Timur dan Pasifik (EAP) Oktober 2025 membunyikan alarm serupa, menyebut satu dari tujuh anak muda di Indonesia dan Tiongkok tidak memiliki pekerjaan.
Lembaga itu menunjuk stagnasi sektor manufaktur sebagai penyebab utama. Selama tiga puluh tahun, pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur Indonesia hampir tidak bergerak, padahal manufaktur secara historis adalah mesin penciptaan kerja formal.
Yang membuat situasinya makin pelik, produktivitas perusahaan di Indonesia sebenarnya meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama. Tapi penciptaan lapangan kerja hanya tumbuh 3-8%. Artinya, perusahaan bisa tumbuh efisien tanpa harus mempekerjakan lebih banyak orang.
Di atas itu semua, otomatisasi dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) mulai menggerus pekerjaan-pekerjaan tradisional di sektor manufaktur dan jasa, mempersempit pintu masuk bagi angkatan kerja baru. PHK massal di awal 2025 melompat 460% dibanding periode sebelumnya, terutama di industri tekstil yang dihajar lemahnya permintaan global.
![]() |
| Pekerja tani membawa anakan padi untuk ditanam di India. Pertanian menyumbang bagian substansial dari aktivitas ekonomi di India dan Asia Tenggara. REUTERS |
India menghadapi problematika yang berbeda nomenklaturnya, tapi sama beratnya. Sebanyak 42% tenaga kerja India masih bertumpu pada sektor pertanian yang kontribusinya terhadap PDB hanya 18%. Morgan Stanley menghitung, agar pasar kerja India tetap stabil, ekonominya harus tumbuh minimal 7,4% per tahun.
Tiongkok bergulat dengan ledakan lulusan universitas yang tidak tertampung. Jumlah sarjana baru melonjak dari 8,2 juta pada 2019 menjadi 11,7 juta pada 2024, sementara di saat bersamaan total lapangan pekerjaan menyusut sekitar 20 juta akibat perlambatan ekonomi.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook edisi April 2025 memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia akan menyentuh 5% sepanjang 2025 dan naik lagi ke 5,1% pada 2026. Ketidakpastian global usai AS memberlakukan tarif impor baru pada April 2025 disebut memperburuk prospek perekrutan.
IMF juga menyoroti dampak sosial-politik yang mulai nyata. Gelombang demonstrasi yang dipimpin generasi muda di Filipina, Indonesia, dan Timor Leste, serta jatuhnya pemerintahan di Nepal dan Bangladesh, dibaca sebagai sinyal ketidakstabilan yang bersumber dari tekanan ketenagakerjaan. Tekanan sosial-ekonomi ini diperkirakan telah memangkas pertumbuhan kawasan sekitar 1,8 poin persentase dibanding rata-rata dekade 2010-an.
![]() |
| Sejumlah pencari kerja antre melamar kerja saat pameran bursa kerja di Pandeglang, Banten, Selasa (14/5/2024). | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas |
Indonesia saat ini diperkirakan akan kedatangan 12,7 juta penduduk usia produktif baru dalam periode 2025-2035, jumlah terbesar di kawasan. Survei ISEAS-Yusof Ishak Institute yang terbit Januari 2025 mencatat hanya 58% responden muda Indonesia yang percaya pada rencana ekonomi pemerintah, jauh di bawah rata-rata lima negara tetangga yang mencapai 75%.
Forum Youth Employment Summit (YES) 2025 mendorong tiga strategi untuk membalikkan tren ini: pengembangan ekonomi hijau, akselerasi digitalisasi, dan penguatan hilirisasi komoditas. Dari 28 komoditas prioritas, proyeksi pendapatan industri hilirisasi ditaksir bisa mencapai US$917 miliar pada 2045.
Program magang nasional berkapasitas 20.000 peserta dengan gaji setara Upah Minimum Provinsi (UMP) juga mulai digulirkan sebagai langkah jangka pendek. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM meluncurkan Indonesia Muda Preneur Academy 2025, yang menyasar siswa SMA, SMK, dan santri untuk dibekali keterampilan kewirausahaan sejak dini.
Morgan Stanley menegaskan, tanpa perbaikan iklim investasi dan reformasi struktural yang menyeluruh, Indonesia berisiko terjebak dalam pola yang sama: tenaga kerja muda terus bertambah, pekerjaan berkualitas tetap langka.





0Komentar