![]() |
| Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning saat konferensi pers di Kementerian Luar Negeri China, Beijing, 15 Januari 2024. | XINHUA |
Beijing bereaksi keras terhadap rencana Uni Eropa yang akan memperluas kuota impor dan memberlakukan tarif tambahan terhadap produk-produk asal China. Pemerintah China menegaskan siap mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya.
Rencana pengetatan itu sebelumnya diungkapkan Kepala Industri UE Stephane Sejourne kepada Financial Times. Sejourne menyatakan blok tersebut akan menerapkan kuota impor dan tarif secara lebih sistematis demi melindungi sektor-sektor krusial seperti industri bahan kimia, logam, dan teknologi bersih dari persaingan yang dinilainya tidak sehat dari China.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning langsung merespons dalam konferensi pers rutin pada Kamis (28/5/2026). Ia menuding UE hanya cherry picking data untuk membenarkan klaim sepihak soal ketimpangan perdagangan.
"Jika seseorang hanya melihat perdagangan barang tanpa mempertimbangkan perdagangan jasa dan pendapatan investasi, serta hanya fokus pada angka perdagangan utama tanpa melihat struktur perdagangan dan ke mana keuntungan mengalir, hal itu tentu akan mengarah pada kesimpulan sepihak mengenai ketidakseimbangan perdagangan," ujar Mao.
Defisit perdagangan barang UE dengan China memang membengkak. Sepanjang 2025, angkanya naik 2,7% dari tahun sebelumnya menjadi 359,9 miliar euro. Meski begitu, Mao membantah China sengaja mendorong ketimpangan itu.
"Tidak ada yang namanya pemaksaan dalam membeli atau menjual. China tidak dengan sengaja mengejar surplus perdagangan dengan Eropa," tegasnya.
Mao juga menyindir berbagai istilah yang kerap dipakai UE untuk membingkai kebijakan dagangnya. Menurutnya, apapun istilah yang digunakan, muaranya tetap sama.
"Apakah itu pengurangan risiko, pengurangan ketergantungan, atau apa yang disebut dengan keseimbangan perdagangan, pada hakikatnya semua itu adalah proteksionisme," tambah Mao.
UE sejak lama menuding China menjalankan praktik dagang yang tidak sehat, mulai dari subsidi massal yang ditopang pemerintah, pembatasan akses pasar bagi perusahaan asing, hingga kebijakan yang dinilai mendistorsi kompetisi global.
Tekanan untuk memperketat instrumen perdagangan kian menguat dari dalam blok itu sendiri. Prancis, Italia, dan Spanyol termasuk yang paling vokal mendesak UE bertindak lebih agresif melindungi industri domestik dari serbuan produk impor murah asal China.

0Komentar