![]() |
| Model skala penuh (mockup) dari Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA), pesawat tempur siluman generasi kelima yang sedang dikembangkan oleh India. |
Otoritas Pengembangan Dirgantara India (Aeronautical Development Agency/ADA) resmi mengundang konsorsium swasta untuk menggarap proyek Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA), pesawat tempur siluman generasi kelima pertama yang dikembangkan negara tersebut.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam industri pertahanan India karena untuk pertama kalinya sektor swasta diberi peran utama dalam pengembangan pesawat tempur, bidang yang selama puluhan tahun didominasi perusahaan milik negara.
Tender bernilai sekitar 15.000 crore rupee atau setara US$1,56 miliar itu ditawarkan kepada tiga kelompok industri, yakni Larsen & Toubro-Bharat Electronics Limited, Tata Advanced Systems, serta Bharat Forge-BEML. Pemenang kontrak akan bertugas membangun lima prototipe AMCA beserta kerangka pengujian struktural atau Structural Test Specimen (STS).
Keputusan tersebut juga menandai berakhirnya dominasi Hindustan Aeronautics Limited (HAL) dalam program pengembangan pesawat tempur nasional. Berdasarkan ketentuan tender, perusahaan pemenang diwajibkan membentuk entitas baru yang berada di bawah kendali warga negara India dalam waktu tiga bulan setelah kontrak diteken.
Pemerintah India menempatkan AMCA sebagai proyek strategis untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemasok asing. Program ini menjadi bagian dari upaya New Delhi membangun kemampuan produksi pesawat tempur generasi kelima secara mandiri di tengah meningkatnya persaingan teknologi militer global.
Namun, jadwal yang ditetapkan ADA memantik perdebatan di kalangan pengamat pertahanan. Dalam dokumen tender, prototipe pertama ditargetkan selesai dalam 24 bulan sejak kontrak ditandatangani.
Penerbangan perdana dijadwalkan berlangsung enam bulan kemudian atau sekitar 30 bulan setelah proyek dimulai. Seluruh rangkaian pengujian, termasuk 1.800 penerbangan uji, ditargetkan rampung dalam waktu 84 bulan.
Prototipe awal akan menggunakan mesin GE F414 buatan Amerika Serikat. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, produksi massal AMCA diperkirakan dapat dimulai pada 2034 atau 2035.
Sejumlah pakar industri pertahanan menilai target penerbangan perdana dalam 30 bulan tergolong sangat ambisius. Dibandingkan program sejenis di negara lain, rentang waktu tersebut jauh lebih singkat.
Pengembangan F-22 Raptor di AS membutuhkan sekitar enam tahun sejak kontrak hingga penerbangan uji, sedangkan F-35 Lightning II memerlukan lebih dari lima tahun. Program KAAN milik Turki juga memakan waktu sekitar delapan tahun sebelum mencapai tahap yang sama.
Tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait produksi pesawat, tetapi juga penguasaan teknologi siluman yang kompleks. Kontraktor swasta harus mengembangkan dan mengintegrasikan material penyerap radar, sistem sensor terpadu, serta kemampuan supercruise, yakni terbang pada kecepatan supersonik tanpa menggunakan afterburner.
Pengalaman sektor swasta India dalam industri penerbangan militer sejauh ini masih relatif terbatas. Sebagian besar keterlibatan mereka berfokus pada produksi komponen dan perakitan, termasuk dalam proyek pesawat angkut C-295. Karena itu, keberhasilan AMCA akan menjadi ujian besar bagi kemampuan rekayasa, manajemen proyek, dan rantai pasok industri pertahanan domestik.
Meski demikian, pemerintah India tetap optimistis. Keterlibatan perusahaan besar seperti Tata Advanced Systems dan Larsen & Toubro diharapkan dapat mempercepat proses pengembangan melalui tata kelola yang lebih fleksibel dan pengambilan keputusan yang lebih cepat dibandingkan model yang selama ini bertumpu pada perusahaan milik negara.

0Komentar