kereta cepat CRH2A-2001 milik China Railway. | N509FZ/WIKIMEDIA COMMONS

Kawasan Asia Tenggara mulai mempercepat integrasi transportasi lintas negara melalui pengembangan jaringan kereta cepat regional yang melibatkan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sejumlah proyek rel strategis kini dipersiapkan secara paralel dan ditargetkan mulai beroperasi bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Malaysia menjadi salah satu motor utama dalam inisiatif ini lewat kebangkitan proyek Kereta Cepat Kuala Lumpur-Singapura atau KL-SG HSR yang sempat dibatalkan pada 2021. Pemerintahan Perdana Menteri kini menghidupkan kembali proyek tersebut melalui skema Public-Private Partnership (PPP).

Jalur sepanjang 350 kilometer itu akan menghubungkan Bandar Malaysia di Kuala Lumpur dengan Jurong East di Singapura dalam waktu sekitar 90 menit. Kereta dirancang melaju hingga 300 kilometer per jam dengan sistem persinyalan European Train Control System (ETCS).

Di saat proyek HSR masih dalam tahap persiapan, Malaysia dan Singapura juga mencatat perkembangan pada proyek Rapid Transit System (RTS) Link yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Mengutip Travel and Tour World, jalur sepanjang empat kilometer tersebut akan menghubungkan Bukit Chagar di Johor Bahru dengan Woodlands North di Singapura. Kapasitas angkutnya diperkirakan mencapai 10.000 penumpang per jam.

Sistem CIQ (Customs, Immigration and Quarantine) terintegrasi juga disiapkan di satu titik pemeriksaan. Dengan skema itu, proses bea cukai dan imigrasi dilakukan sebelum keberangkatan sehingga perjalanan lintas batas diharapkan menjadi lebih cepat.

Thailand ikut memperkuat konektivitas regional lewat proyek HSR Thailand-China yang menghubungkan Nakhon Ratchasima hingga Nong Khai di perbatasan Laos. Jalur itu diproyeksikan beroperasi pada 2031 dan menjadi bagian penting dari jaringan logistik darat yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Tiongkok.

Pemerintah Thailand juga mendorong restorasi jalur kereta Sungai Kolok-Rantau Panjang yang nantinya tersambung dengan proyek East Coast Rail Link (ECRL) Malaysia pada 2027.

Vietnam bergerak lebih agresif melalui proyek Kereta Cepat Utara-Selatan sepanjang sekitar 1.500 kilometer. Jalur tersebut akan menghubungkan Hanoi dengan Ho Chi Minh City dan dijadwalkan mulai groundbreaking pada akhir 2026.

Pemerintah Vietnam memperkirakan waktu perjalanan antarkota yang saat ini mencapai sekitar 32 jam dapat dipangkas menjadi hanya lima jam setelah jalur beroperasi penuh.

Di tengah percepatan pembangunan jaringan rel regional itu, Indonesia tidak masuk dalam proyek integrasi kereta cepat lintas negara yang sedang disiapkan di Asia Tenggara.