proyektil artileri kaliber 155 mm yang diproduksi oleh perusahaan pertahanan Jerman, Rheinmetall. Axel Heimken/AFP 


Uni Eropa baru saja menjatuhkan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia dan untuk pertama kalinya, Beijing membalas secara langsung. Balasan itu bukan sekadar protes diplomatik, melainkan serangan ke titik paling rentan yaitu rantai pasokan pertahanan Eropa sendiri.

Paket sanksi yang ditetapkan pada 23 April dan berlaku sehari kemudian itu memasukkan 28 dari 60 entitas yang baru disanksi berasal dari negara ketiga, mayoritas dari China dan Hong Kong. 

Dalam 24 jam, Kementerian Perdagangan China memasukkan tujuh perusahaan pertahanan dan dirgantara Eropa ke dalam daftar kontrol ekspornya, melarang mereka mengimpor barang dual-use dari China.

Beijing menyebut langkah UE sebagai "sanksi sepihak yang dijatuhkan tanpa otorisasi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa."

Kontradiksi di jantung sanksi

Di atas kertas, paket ke-20 ini terlihat ambisius. Selain pencantuman entitas, UE memberlakukan larangan ekspor baru senilai lebih dari €365 juta yang mencakup barang dari karet hingga traktor, serta pembatasan impor senilai lebih dari €530 juta atas logam, bahan kimia, dan mineral. 

Layanan keamanan siber ke Rusia kini sepenuhnya dilarang. Dua puluh bank Rusia tambahan terkena larangan transaksi, berlaku mulai 14 Mei.

Tapi angka-angka itu terbentur realitas lain.

Bloomberg melaporkan pada 30 April bahwa Rusia kini memperoleh lebih dari 90% teknologi tersanksinya melalui China, naik dari sekitar 80% setahun lalu. Peningkatan itu terjadi justru di tengah pengetatan penegakan sanksi UE, yang mengisyaratkan bahwa perantara-perantara China mengisi celah yang ditinggalkan setelah jalur melalui Asia Tengah dan kawasan lain berhasil ditekan.

Data lain tak kalah keras. Ekspor turbojet engine China ke Rusia pada paruh pertama 2025 sudah melampaui gabungan total dua tahun sebelumnya sebesar 37%. Utusan sanksi UE David O'Sullivan memperkirakan China memasok 80% komponen yang digunakan dalam produksi senjata Rusia. 

European External Action Service sendiri pernah menyatakan bahwa "tanpa dukungan China, Rusia tidak akan mampu melanjutkan agresinya dengan kekuatan yang sama."

Drone pengintai Orlan-10 buatan Rusia tampak tengah dipersiapkan oleh personel militer. TASS

Komponen China kini terdeteksi dalam drone dan rudal Rusia di medan perang Ukraina, dikirim melalui perusahaan cangkang yang menyamar sebagai pemasok industri sipil. Insinyur China dilaporkan bekerja di fasilitas drone Rusia, mengadaptasi quadcopter sipil seperti Autel Max 4T untuk keperluan tempur.

China mulai membalas

Yang membuat balasan Beijing kali ini berbeda adalah presisinya. Dengan menarget tujuh perusahaan pertahanan Eropa, China tidak sekadar memprotes, ia menyentuh rantai pasokan yang sedang dalam masa kritis. 

Investasi pertahanan Eropa sedang melonjak, hampir US$1 miliar mengalir ke startup pertahanan Eropa pada paruh pertama 2025 di bawah program ReArm Europe. Namun industri pertahanan yang sedang tumbuh itu bergantung pada komponen yang rantai pasoknya dikuasai Beijing.

Harga logam tanah jarang sudah melonjak hingga enam kali lebih tinggi di luar China dibanding di dalamnya. Pabrik semikonduktor dan produsen drone Eropa mulai terpaksa memangkas kapasitas.

Misi China untuk UE memperingatkan bahwa "segala konsekuensi akan ditanggung oleh UE," seraya mendesak agar entitas-entitas China segera dihapus dari daftar sanksi.

Hambatan politik mulai terbuka

Paket sanksi ini hadir setelah berbulan-bulan macet akibat veto dari Hungaria dan Slovakia. 

Péter Magyar berbicara kepada media di Budapest setelah mengalahkan partai Perdana Menteri Viktor Orbán dalam pemilihan parlemen negara itu. REUTERS

Hambatan Hungaria rontok setelah partai Perdana Menteri Viktor Orbán kalah dalam pemilihan parlemen 12 April, dikalahkan oleh Péter Magyar dari partai Tisza dengan mayoritas dua pertiga kursi parlemen. 

Slovakia mencabut vetonya setelah Ukraina merampungkan perbaikan pipa minyak Druzhba. Terobosan itu juga membuka jalan bagi pinjaman €90 miliar untuk Kyiv.

Namun pergantian di Budapest tidak serta-merta berarti jalan mulus ke depan. Magyar, meski lebih pro-UE dari Orbán, menolak pengiriman senjata ke Ukraina dan mensyaratkan referendum dalam negeri sebelum Ukraina bisa bergabung ke UE. Hungaria juga masih sangat bergantung pada energi Rusia, sekitar tiga perempat impor gas tahunannya berasal dari Rusia. 

Para analis di Carnegie Endowment memperingatkan bahwa dengan Orbán pergi, aktor lain kemungkinan akan mengambil alih peran penghalang di dalam UE.

Jalur lama masih jadi andalan

Salah satu langkah paling signifikan dalam paket ini adalah penggunaan pertama anti-circumvention tool, instrumen yang sebetulnya sudah dirancang sejak paket sanksi ke-11 pada Juni 2023 tapi baru kini diaktifkan. 

Berbeda dari sanksi biasa yang menarget entitas spesifik yang terbukti melanggar, alat ini bersifat preventif. Ia memblokir seluruh kategori barang ke negara tertentu karena pola penghindaran yang sistematis, bahkan sebelum ada pelanggaran baru yang teridentifikasi.

Target pertamanya adalah Kyrgyzstan. Mesin perkakas CNC dan peralatan telekomunikasi diblokir dari diekspor ke negara Asia Tengah itu guna mencegah ekspor ulang ke Rusia. 

Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov, tepat sehari setelah sanksi berlaku, terbang ke Moskwa untuk bertemu Vladimir Putin. Di forum internasional sebelumnya, ia menyebut sanksi Barat terhadap bank-bank Kyrgyz "berdasarkan informasi palsu."

UE juga memperluas larangan ke institusi keuangan di Azerbaijan, Laos, dan menambah empat bank Kyrgyz baru di atas dua bank yang sudah masuk daftar sanksi paket ke-19 pada Oktober 2025.

Satu hal yang belum pernah berubah dalam seluruh eskalasi ini: koridor penghindaran yang sama, yaitu China, Kyrgyzstan, dan UAE, terus muncul dari satu paket sanksi ke paket berikutnya.