Ruang pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York. UN PHOTO/LOEY FELIPE

Badan internasional pengawas gencatan senjata Gaza bentukan PBB menyerahkan laporan kepada Dewan Keamanan, mendesak agar tekanan lebih besar diarahkan ke Hamas untuk segera melucuti senjata. Laporan sementara itu dijadwalkan dibahas Kamis ini dan menjadi sesi pengarahan resmi kedua Dewan sejak Maret lalu.

Dokumen yang ditinjau The Associated Press pada Selasa (18/5) mengungkapkan bahwa seluruh pilar utama rencana perdamaian Gaza masih tersumbat di titik yang sama, sebab Hamas belum meletakkan senjata. Tata kelola sipil, rekonstruksi, hingga pengerahan pasukan stabilisasi semuanya menunggu satu langkah itu.

Gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat resmi berlaku pada 10 Oktober 2025. Tujuh bulan berselang, negosiasi antara pimpinan Hamas dan Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, tak menghasilkan apa pun yang konkret.

Pada 13 Mei, Mladenov akhirnya menyatakan terbuka bahwa kesepakatan itu "lumpuh." Pelucutan senjata, tegasnya, adalah hal yang "tidak dapat dinegosiasikan."

Dewan Perdamaian sendiri sudah menyerahkan kerangka pelucutan senjata yang rinci kepada Hamas pada Maret 2026, merancang proses bertahap di mana Hamas menyerahkan senjata berat dan peta jaringan terowongan dalam 90 hari, sementara pasukan Israel mundur secara bersamaan. Hamas menolak. Syarat yang diajukan kelompok itu adalah Israel lebih dulu menghentikan operasi militer dan membuka akses kemanusiaan penuh sebelum satu pun senjata diserahkan.

Kebuntuan soal senjata langsung membekukan rekonstruksi. Penilaian J Street pada April 2026 mencatat hanya 0,5% puing-puing yang sudah dibersihkan. Dari US$17 miliar yang dijanjikan dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian pada Februari, sebagian besar belum cair.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar tegas menyatakan tidak akan melepas dana itu sebelum Hamas melucuti senjata dan ada jaminan perang tidak akan meletus kembali.

Di lapangan, Komite Nasional Pengelolaan Gaza yang ditunjuk Januari lalu untuk memerintah wilayah itu belum satu kali pun diizinkan masuk. Hamas masih menguasai sekitar 46% wilayah Gaza, sisanya di bawah kendali Israel.

Situasi di lapangan memperkeruh posisi diplomatik. Kelompok-kelompok pemantau konflik mencatat serangan Israel pada April meningkat 35% dibanding Maret. Empat tentara Israel tewas dalam serangan militan Hamas sejak Oktober.

Sebuah dokumen yang diperoleh The Times of Israel awal Mei memperlihatkan bahwa Dewan Perdamaian tidak akan mengikat Israel pada ketentuan gencatan senjata selama Hamas menolak kerangka pelucutan senjata, yang berarti kewajiban Israel secara efektif digantungkan pada kepatuhan Hamas.

Dalam sesi pengarahan Maret lalu, Mladenov sudah memperingatkan para duta besar bahwa "proses perlucutan senjata berjalan seiring dengan penarikan bertahap" dan merupakan "fondasi bagi kredibilitas seluruh proses ini."