Sebanyak 8 perusahaan global yang berasal dari 6 negara Korea Selatan, China, Uni Emirat Arab, Rusia, Malaysia, dan Singapura telah resmi menanamkan modalnya. | OIKN

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mencatat total komitmen investasi non-APBN yang masuk ke proyek pembangunan ibu kota baru mencapai Rp72,39 triliun hingga pertengahan Mei 2026. Dari jumlah itu, delapan perusahaan asing asal China, Korea Selatan, Malaysia, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Singapura ikut menyatakan komitmen menanamkan modal di kawasan tersebut.

Masuknya investor asing menjadi salah satu penanda upaya pemerintah menarik pendanaan di luar anggaran negara. Sejak awal, pembangunan IKN dirancang dengan skema pembiayaan yang mengandalkan sekitar 80% dana non-APBN.

Otorita IKN menyebut komitmen investasi tersebut tidak lagi berhenti pada tahap penjajakan, melainkan mulai bergerak ke pembangunan fisik di lapangan. Juru Bicara Otorita IKN Troy Pantouw mengatakan minat investor terhadap proyek ibu kota baru masih terjaga.

“Total angka komitmen investasi sebesar Rp72,39 triliun ini menunjukkan kepercayaan terhadap IKN terus berjalan. Pembangunan IKN adalah masa depan kota Indonesia, caranya adalah dengan bersama-sama kita membangun ekosistem kehidupan, layanan, hunian, dan berbagai aktivitas ekonomi bagi masyarakat,” ujar Troy, seperti dikitip dari Antara, Senin (18/5/2026).

Struktur pendanaan yang masuk didominasi investasi swasta murni dengan nilai Rp60,29 triliun. Dana tersebut mengalir ke sejumlah proyek komersial dan infrastruktur penunjang kota. Sisanya sebesar Rp12,10 triliun berasal dari pembiayaan fasilitas publik dan penugasan kementerian maupun lembaga negara.

Secara administratif, komitmen investasi itu telah dituangkan dalam 75 Perjanjian Kerja Sama (PKS). Sebanyak 11 PKS terafiliasi dengan investor asing, sementara 64 lainnya melibatkan konsorsium dan pelaku usaha domestik.

Otorita IKN mencatat ada 65 pelaku usaha yang terlibat dalam investasi swasta murni. Di saat bersamaan, 15 penugasan diberikan kepada kementerian dan lembaga untuk memperkuat pembangunan layanan dasar dan koordinasi sektor publik.

Modal yang masuk tersebar ke berbagai sektor, mulai dari pembangunan hunian, konektivitas transportasi, energi bersih, kawasan komersial, hotel, hingga fasilitas olahraga. Aktivitas konstruksi yang terus berlangsung juga mulai memantik pertumbuhan sektor pendukung di sekitar kawasan IKN.

Peningkatan mobilitas pekerja proyek, aparatur sipil negara, dan pengunjung memicu bertumbuhnya bisnis ritel, makanan, serta layanan harian. Salah satu jaringan usaha yang mulai beroperasi di kawasan IKN adalah gerai kuliner Roti’O.

“Sejak buka kemarin, antusiasme pengunjung lumayan ramai. Khusus untuk grand opening, itu ada lebih dari seratus orang yang datang,” ujar Kepala Toko Roti’O di IKN, Harfi.

Ia menilai potensi kunjungan masyarakat ke kawasan IKN masih akan meningkat seiring perkembangan proyek pembangunan dan aktivitas ekonomi baru di wilayah tersebut.

Troy mengatakan mulai masuknya sektor ritel menunjukkan aktivitas ekonomi di IKN mulai terbentuk seiring pembangunan infrastruktur dasar dan kawasan hunian.

“Ketika infrastruktur dasar, hunian, energi, layanan publik, dan aktivitas ekonomi mulai terbentuk, di situlah kota ini mulai hidup. Investasi ini menjadi jembatan dari pembangunan menuju kehidupan kota,” kata Troy.