Logo Bank Indonesia. | APLUSWIRE/ROBIN SANTOSO


Bank Indonesia memperketat aturan pembelian dolar AS setelah rupiah kembali menyentuh rekor terendah baru di tengah tekanan geopolitik global dan lonjakan harga minyak. Langkah itu ditempuh bersamaan dengan intervensi agresif di pasar valuta asing dan obligasi pemerintah untuk menahan pelemahan mata uang domestik.

Nilai tukar rupiah pada Selasa ditutup melemah 0,2% ke level 17.422 per dolar AS. Level itu menjadi yang terendah sepanjang sejarah di tengah penguatan dolar dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah.

Bank Indonesia bergerak di beberapa lini sekaligus. Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Surat Berharga BI Erwin Hutapea mengatakan bank sentral melakukan intervensi melalui transaksi non-deliverable forwards di pasar offshore dan domestik, transaksi spot, serta pembelian surat utang negara di pasar sekunder.

Pada saat yang sama, BI juga akan kembali menurunkan ambang batas dokumen underlying untuk pembelian dolar AS. Kebijakan itu melanjutkan aturan yang mulai berlaku sejak 1 April lalu, ketika batas pembelian valuta asing tunai dipangkas dari US$100.000 menjadi US$50.000 per bulan.

Aturan dalam Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia No. 7/2026 itu ditujukan untuk membatasi transaksi spekulatif dan memastikan pembelian valuta asing hanya digunakan untuk kebutuhan ekonomi riil.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika ekonomi domestik justru mencatat pertumbuhan kuat. Badan Pusat Statistik melaporkan produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I-2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,3% dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak kuartal II-2021.

Konsumsi rumah tangga naik 5,52%, ditopang belanja selama Ramadan dan Idulfitri. Namun data pertumbuhan itu belum cukup membalikkan sentimen pasar terhadap rupiah.

Sejak awal tahun, rupiah sudah melemah lebih dari 4%. Pasar dibayangi lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$100 per barel akibat perang di Timur Tengah, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran investor terhadap tata kelola dana kekayaan negara Danantara.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 4,9%-5,7%.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi global turut menekan mayoritas mata uang Asia.

“Rupiah ikut terseret oleh penguatan dolar AS,” kata Josua.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan langkah intervensi bank sentral akan sangat bergantung pada perkembangan perang dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.

“Seberapa lama perang berlangsung, dampaknya terhadap dolar AS, dan imbal hasil obligasi Treasury,” ujar Perry terkait faktor yang menjadi perhatian BI.