Suasana dalam salah satu pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, yang secara khusus menyoroti hubungan antara ASEAN dan Tiongkok. | VGP

Negara-negara anggota ASEAN dan China kembali menggelar rangkaian perundingan tingkat tinggi terkait sengketa Laut China Selatan di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (21/5). Pertemuan itu difokuskan pada upaya mempercepat pembahasan Code of Conduct (COC) atau kode etik maritim yang telah dinegosiasikan selama bertahun-tahun namun belum juga rampung.

Agenda utama dibahas dalam Pertemuan Pejabat Senior ASEAN-China ke-26 terkait implementasi Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) 2002. Forum itu berlangsung bersamaan dengan Konsultasi Pejabat Senior ASEAN-China (ACSOC) ke-32.

Para pejabat meninjau pelaksanaan deklarasi DOC sekaligus membahas langkah untuk mempercepat negosiasi COC yang dirancang menjadi aturan mengikat secara hukum bagi kawasan Laut China Selatan yang disengketakan.

Dorongan mempercepat pembahasan muncul setelah ASEAN dan China menetapkan target penyelesaian COC pada 2026. Namun sejumlah isu utama masih belum menemukan titik temu, mulai dari cakupan wilayah, status hukum, hingga mekanisme penegakan aturan.

Pertemuan di Kuala Lumpur menjadi kelanjutan dari SOM-DOC ke-25 yang digelar di Cebu, Filipina, Januari lalu. Saat itu, para pejabat menyebut 2026 sebagai tenggat politik untuk menyelesaikan negosiasi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Laut China Selatan masih menjadi salah satu titik sengketa paling sensitif di Asia. China mengklaim sebagian besar wilayah perairan tersebut, klaim yang tumpang tindih dengan sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Di luar isu maritim, ASEAN dan China juga membahas penguatan hubungan strategis yang lebih luas melalui ACSOC ke-32. Forum itu mengevaluasi perkembangan Kemitraan Strategis Komprehensif ASEAN-China, termasuk kerja sama politik-keamanan, ekonomi, dan sosial-budaya.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Urusan ASEAN Thailand, Vathayudh Vichankaiyakij, memimpin delegasi negaranya dalam konsultasi tersebut. Sekretaris Negara Kamboja sekaligus Ketua ASEAN SOM, Kung Phoak, turut menghadiri pertemuan.

Aktivitas diplomatik itu berlangsung di tengah meningkatnya intensitas hubungan ekonomi ASEAN-China. Pada hari yang sama, kedua pihak meluncurkan platform informasi bisnis dan perdagangan di Nanning, Guangxi, China

Platform tersebut ditujukan untuk memperlancar arus informasi perdagangan dan memperkuat konektivitas ekonomi kawasan. Peluncurannya bertepatan dengan Konferensi Peradaban Internet China 2026 yang digelar di kota itu awal pekan ini.

Pembahasan COC sebelumnya juga muncul dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu beberapa pekan lalu. Meski belum menghasilkan kesepakatan final, para pemimpin kawasan disebut tetap mendorong pendekatan bertahap untuk meredakan ketegangan di Laut China Selatan.

Analis dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura menilai penyelesaian penuh atas sengketa kawasan kemungkinan masih sulit dicapai dalam waktu dekat. Namun mereka menyebut langkah-langkah kecil untuk mengurangi eskalasi tetap memungkinkan dilakukan melalui negosiasi yang berlanjut.