![]() |
| Roket komersial Lijian-1 atau Kinetica-1 lepas landas dari fasilitas peluncuran di China. XINHUA |
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan satelit asal China yang dituduh membantu operasi militer Iran dengan menyediakan citra dan data pengintaian untuk menyerang pasukan AS di Timur Tengah.
Langkah itu diumumkan Washington pada Jumat (8/5), hanya beberapa hari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan sanksi dijatuhkan kepada Meentropy Technology (Hangzhou) Co., yang juga dikenal sebagai MizarVision, kemudian The Earth Eye, serta Chang Guang Satellite Technology Co. Ketiganya disebut terlibat dalam penyediaan citra satelit dan intelijen yang mendukung operasi militer Teheran.
Menurut Departemen Luar Negeri AS, Meentropy Technology mempublikasikan citra sumber terbuka yang memperlihatkan aktivitas militer AS selama Operasi Epic Fury.
The Earth Eye dituduh memberikan data satelit secara langsung kepada Iran, sedangkan Chang Guang disebut mengumpulkan informasi posisi militer AS dan sekutunya atas permintaan Teheran.
Rubio mengatakan Washington akan terus menggunakan sanksi sepihak untuk menindak pihak-pihak yang dianggap melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran.
“Kami akan menggunakan sanksi unilateral kami untuk menindak setiap pihak yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Iran,” ujar Rubio.
Sanksi itu juga menyasar jaringan pengadaan senjata Iran di luar negeri, termasuk perusahaan-perusahaan yang dituduh memasok material untuk program rudal dan drone Teheran.
Departemen Keuangan AS secara terpisah menjatuhkan sanksi kepada lima perusahaan lain dan satu individu. Salah satu entitas yang masuk daftar adalah Yushita Shanghai International Trade Company, yang dituding membantu Iran memperoleh komponen untuk drone seri Shahed dan program rudal balistiknya. Perusahaan yang berbasis di Belarus dan Uni Emirat Arab turut disebut dalam paket sanksi terbaru tersebut.
Langkah Washington datang di tengah upaya menjaga hubungan dengan Beijing agar tidak semakin memburuk.
Trump dijadwalkan berkunjung ke China pada 14–15 Mei dalam kunjungan presiden AS pertama ke negara itu dalam hampir satu dekade. Pertemuan puncak tersebut sebelumnya direncanakan berlangsung pada akhir Maret, namun tertunda setelah AS semakin terlibat dalam konflik Timur Tengah bersama Israel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan isu Iran akan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan Trump dan Xi, selain pembahasan tarif perdagangan, pasokan tanah jarang, serta penyelundupan fentanil.
Laporan Financial Times pada April lalu menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran membeli satelit pengintai TEE-01B yang dibangun dan diluncurkan oleh Earth Eye pada akhir 2024. Satelit itu disebut digunakan untuk memantau instalasi militer AS di Arab Saudi, Yordania, Bahrain, dan Irak sebelum maupun sesudah serangan drone dan rudal Iran berlangsung.
Sejumlah analis menilai pertemuan Trump dan Xi lebih diarahkan untuk mencegah hubungan kedua negara semakin merosot ketimbang menghasilkan terobosan besar.
Peneliti dari Brookings Institution dan Center for Strategic and International Studies menilai Beijing kemungkinan akan menekan AS agar mengurangi tarif dan memberikan kepastian soal stabilitas Taiwan, sementara Washington berharap China dapat membantu menekan Iran menuju gencatan senjata.

0Komentar