![]() |
Sebuah drone Bayraktar terlihat saat gladi bersih parade militer Hari Kemerdekaan di pusat Kyiv, Ukraina, 18 Agustus 2021. REUTERS/GLRB GARANICH |
Turki dan Jepang menandatangani pakta kerja sama industri pertahanan yang berfokus pada pengembangan drone dan sistem militer canggih lain dalam ajang SAHA EXPO 2026 di Istanbul. Kesepakatan itu menandai langkah baru kedua negara dalam memperluas kolaborasi teknologi pertahanan di tengah meningkatnya kebutuhan modernisasi militer di kawasan Asia dan Timur Tengah.
Kerja sama tersebut dituangkan melalui penandatanganan surat niat antara Presidensi Industri Pertahanan Turki (Presidency of Defense Industries/SSB) dan Acquisition, Technology and Logistics Agency (ATLA) Jepang.
Menurut laporan Nikkei Asia, penandatanganan dilakukan dalam rangkaian Hari Kerja Sama Industri Pertahanan Turki-Jepang perdana yang digelar di sela SAHA EXPO.
Forum itu mempertemukan lebih dari 10 perusahaan Jepang dan sekitar 30 perusahaan pertahanan Turki untuk menjajaki proyek bersama, mulai dari kendaraan udara tak berawak hingga sistem otonom berbasis kecerdasan buatan.
Presiden SSB Haluk Görgün menyebut kesepakatan tersebut sebagai pijakan awal untuk pengembangan teknologi tinggi bersama.
“Ini menjadi peta jalan untuk proses pengembangan dan produksi bersama di bidang teknologi tinggi,” ujar Görgün seperti dikutip media pertahanan Turki.
Fokus utama kerja sama mengarah pada pengembangan unmanned aerial vehicle (UAV). Turki dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu eksportir drone tempur terbesar dunia lewat Bayraktar TB2 buatan Baykar yang digunakan di sejumlah konflik, termasuk di Ukraina dan Libya.
Jepang sendiri tengah mempercepat penguatan pertahanannya seiring meningkatnya ketegangan keamanan di Pasifik Barat. Dalam anggaran pertahanan tahun fiskal 2026 yang disahkan pada April lalu, Tokyo mengalokasikan ¥11,1 miliar atau sekitar US$69,7 juta untuk pengadaan lima UAV jarak jauh bagi Pasukan Bela Diri Darat Jepang.
Pemerintah Jepang saat ini mengevaluasi Bayraktar TB2 milik Baykar dan Heron 2 buatan Israel untuk kebutuhan armada UAV mereka. Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler sebelumnya juga menawarkan TB2 serta varian angkatan lautnya, TB3, kepada Jepang.
Menurut laporan Nikkei Asia, pembahasan kedua negara tidak hanya mencakup produksi drone, tetapi juga integrasi teknologi sensor dan kecerdasan buatan Jepang ke dalam platform UAV Turki. Mereka turut membuka peluang kerja sama pengembangan kendaraan laut otonom.
Kerja sama itu muncul ketika Jepang mulai melonggarkan pembatasan transfer peralatan pertahanan yang selama puluhan tahun diterapkan secara ketat. Tokyo juga berupaya memperluas jaringan industri pertahanan dengan mitra baru di luar aliansi tradisionalnya.
Turki pada saat yang sama berusaha memperkuat kapasitas industri pertahanan domestik dengan memanfaatkan keahlian Jepang di bidang manufaktur presisi dan mikroelektronik. Kedua negara menilai pengadaan bersama komponen penting dapat membantu mengurangi ketergantungan rantai pasok terhadap negara ketiga.
SAHA EXPO 2026 yang berlangsung hingga Sabtu (9/5) ini diikuti lebih dari 1.700 perusahaan pertahanan dari berbagai negara. Penyelenggara menargetkan nilai kesepakatan bisnis dalam pameran tersebut mencapai US$8 miliar.

0Komentar