Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Nigeria kembali menghantam wilayah Metele, Negara Bagian Borno, Nigeria timur laut, pada Minggu (17/5). Komando Afrika AS (AFRICOM) mengumumkan operasi itu sehari berselang, melaporkan lebih dari 20 pejuang afiliasi ISIS tewas dalam serangan tersebut tanpa ada korban dari pihak AS maupun Nigeria.
Markas Pertahanan Nigeria menyebut serangan dipicu oleh terpantaunya "konvergensi dan pergerakan elemen teroris" di kawasan itu — sinyal pergerakan massal yang menurut pihak militer mendesak respons cepat.
Operasi ini datang hanya sepekan setelah pasukan kedua negara menghabisi Abu-Bilal al-Minuki di lokasi yang sama. Presiden Donald Trump menyebut al-Minuki sebagai "orang kedua dalam komando ISIS secara global" sekaligus teroris paling aktif di dunia.
Militer Nigeria menggambarkan eksekusi pada 10 Mei itu sebagai "operasi udara kompleks tingkat tinggi yang direncanakan dengan cermat," dilakukan di kediaman sang komandan bersama sejumlah bawahannya.
Al-Minuki masuk daftar Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus oleh Departemen Luar Negeri AS sejak 2023. Ia dikenal sebagai figur operasional yang mengarahkan sel-sel ISIS dalam urusan propaganda media, perang ekonomi, dan produksi senjata.
Kolaborasi militer kedua negara sebetulnya sudah berjalan sejak serangan rudal Tomahawk ke kamp ISIS di Negara Bagian Sokoto pada 25 Desember 2025. AS kemudian mengirim pasukan ke Nigeria pada Februari 2026, awalnya dalam kapasitas penasihat.
Analis keamanan Bulama Burkati, yang diwawancarai outlet itu, mengatakan kampanye ini akan "membuktikan kepada mereka bahwa operasi Amerika-Nigeria benar-benar telah meningkat."
Burkati turut mencatat bahwa pasukan Nigeria sebelumnya tidak punya "kapasitas dasar untuk memerangi kelompok-kelompok ekstremis bersenjata, terutama di wilayah seperti kawasan Danau Chad yang hutannya sangat lebat."
Di balik eskalasi ini, tekanan internasional soal korban sipil terus menguat. Komisioner Tinggi HAM PBB mendesak penyelidikan independen menyusul serangan udara Nigeria di sebuah pasar di Negara Bagian Zamfara pada 10 Mei yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 100 warga sipil.
Sebelumnya, Amnesty International juga mengecam serangan di pasar Jilli, Negara Bagian Borno, pada April lalu. Markas Besar Pertahanan Nigeria membantah adanya korban sipil yang terverifikasi dalam kedua insiden tersebut.

0Komentar