Kereta Cepat Whoosh. KCIC

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk mencatat tekanan berat dari investasinya di proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh. Perseroan mengungkap kerugian yang ditanggung mencapai Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun per tahun, menjadi salah satu sumber utama pelemahan kinerja keuangan dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan itu tercermin pada laporan keuangan 2025. Rugi bersih WIKA melonjak menjadi Rp 9,7 triliun, naik 328% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,26 triliun. Pendapatan neto juga menyusut 30,75% menjadi Rp 13,32 triliun, sementara ekuitas tergerus hingga tersisa Rp 1,68 triliun pada akhir tahun.

Keterlibatan WIKA dalam proyek tersebut melalui kepemilikan 33,36% di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium investor Whoosh. Struktur investasi ini membuat beban proyek ikut tercermin dalam kinerja perseroan, terutama di tengah pembengkakan biaya konstruksi.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyebut pelepasan aset terkait proyek kereta cepat bukan opsi yang mudah. Ia menekankan kompleksitas kepemilikan dan posisi strategis proyek tersebut. 

“Tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset kereta cepat,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Di saat bersamaan, perseroan masih berupaya menagih klaim cost overrun senilai Rp 5,02 triliun. Proses ini kini masuk tahap mediasi dengan pihak KCIC, setelah kedua pihak sepakat menunda jalur arbitrase di Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Manajemen menargetkan penyelesaian klaim tersebut rampung tahun ini.

Tekanan di level induk tidak sepenuhnya tercermin di anak usaha. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) justru mencatat ekspansi di pasar regional. Perusahaan ini memasok produk precast concrete lining untuk proyek Metro Manila Subway Paket CP102 di Filipina, salah satu proyek transportasi terbesar di negara tersebut.

Pengiriman perdana dilakukan dari fasilitas produksi di Angat, Bulacan, pada Juli 2025 melalui kerja sama dengan Sta. Clara International Corporation. Selain itu, WIKA Beton membidik peluang proyek rel lain di Asia Tenggara, termasuk melalui partisipasi dalam ajang Thailand Rail 2026.

Sepanjang 2025, WIKA Beton mengamankan kontrak baru senilai Rp 4 triliun, dengan kontribusi dari proyek MRT Jakarta dan subway Filipina.