Anggota TNI yang tergabung dalam UNIFIL sedang berpatroli di perbatasan Libanon-Israel. | UNIFIL

Pemerintah Indonesia mempertimbangkan mengurangi jumlah personel penjaga perdamaian di Lebanon setelah tiga prajurit TNI tewas dalam rangkaian ledakan di wilayah selatan negara itu akhir Maret. Evaluasi ini muncul di tengah meningkatnya intensitas konflik yang membuat misi perdamaian berubah menjadi situasi berisiko tinggi.

Jenazah ketiga prajurit dipulangkan ke Jakarta dan disambut Presiden Prabowo Subianto dalam upacara militer di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka kemudian dimakamkan di daerah asal masing-masing dengan penghormatan militer.

Insiden mematikan itu terjadi dalam dua hari berturut-turut. Satu prajurit tewas akibat ledakan proyektil di posisi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dekat Adchit al-Qusayr. Sehari kemudian, dua lainnya gugur saat konvoi logistik PBB dihantam ledakan di dekat Bani Hayyan. Sumber keamanan PBB yang dikutip AFP menyebut serangan pertama dipicu tembakan tank Israel.

Situasi keamanan di Lebanon selatan memburuk seiring eskalasi antara Israel dan Hizbullah. Wilayah yang sebelumnya berfungsi sebagai zona penyangga kini kerap menjadi lokasi bentrokan terbuka, memaksa pasukan penjaga perdamaian berlindung di bunker dalam waktu lama.

Mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai kondisi tersebut sudah melampaui mandat awal misi. Dalam pernyataannya di platform X, ia menyebut pasukan Indonesia kini ditempatkan di 
“zona perang, bukan lagi zona biru,” dan mendesak PBB menghentikan atau memindahkan penugasan UNIFIL dari area pertempuran aktif.

Reaksi publik di dalam negeri ikut menguat. Ribuan warga menggelar doa bersama di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, mencerminkan kemarahan atas jatuhnya korban. 

Pemerintah Indonesia menyebut insiden ini “tidak dapat diterima” dan meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan dengan negara kontributor pasukan untuk memperkuat perlindungan personel.

Di lapangan, sekitar 753 prajurit Indonesia saat ini bertugas di bawah UNIFIL dan dijadwalkan menjalani rotasi pada akhir Mei. Pusat Misi Perdamaian TNI menyatakan opsi pengurangan jumlah pasukan tengah dibahas, seiring keterbatasan mobilitas dan meningkatnya ancaman keamanan.

Misi UNIFIL sendiri melibatkan sekitar 10.800 personel militer dan sipil dari berbagai negara. Berdasarkan resolusi Dewan Keamanan, operasi ini direncanakan berakhir pada akhir 2026.

Dalam perkembangan terbaru, tiga penjaga perdamaian Indonesia lainnya dilaporkan terluka akibat ledakan di fasilitas PBB dekat El Adeisse pada 3 April, menambah daftar insiden yang menegaskan tingginya risiko di kawasan tersebut.