![]() |
| Gedung Berlaymont, yang merupakan markas besar Komisi Eropa di Brussels, Belgia. | CORENTINE BECADE/WIKIMEDIA COMMONS |
Uni Eropa memperingatkan Rusia bahwa setiap serangan terhadap negara Baltik akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh blok. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya retorika dari Moskwa terkait dugaan keterlibatan Estonia, Latvia, dan Lituania dalam serangan Ukraina.
Komisi Eropa menegaskan posisi tersebut sebagai respons atas tuduhan Rusia bahwa negara-negara Baltik mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk menyerang target di Rusia. Klaim itu dibantah tegas oleh ketiga negara. Ketegangan berkembang seiring meningkatnya serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Rusia di kawasan Laut Baltik.
Juru bicara Komisi Eropa, Thomas Regnier, menyampaikan bahwa Brussels memandang serius eskalasi tersebut. Ia menegaskan komitmen kolektif Uni Eropa terhadap keamanan anggotanya.
“Serangan terhadap salah satu negara anggota kami adalah serangan terhadap seluruh UE,” ujar Regnier. Ia juga menyinggung sejumlah inisiatif pertahanan, termasuk program anti-drone dan Air Shield, sebagai bagian dari penguatan perlindungan kawasan.
Pernyataan itu mengikuti komentar keras dari pejabat Rusia sehari sebelumnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan negara-negara Baltik “telah menerima peringatan yang sesuai” dan memperingatkan adanya konsekuensi jika peringatan diabaikan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan nada serupa dalam pernyataan terpisah.
Di lapangan, Estonia, Latvia, dan Lituania menolak tuduhan tersebut. Otoritas pertahanan Latvia menyebut klaim Rusia sebagai informasi yang tidak benar dan meminta penarikan pernyataan. Komandan intelijen militer Estonia, Kolonel Ants Kiviselg, menegaskan negaranya tidak pernah mengizinkan wilayah atau ruang udara digunakan untuk menyerang Rusia.
Ketegangan juga dipicu oleh insiden drone pada akhir Maret. Dua drone Ukraina dilaporkan menyimpang dari jalur saat menyerang target di wilayah Rusia dan memasuki wilayah udara Latvia serta Estonia.
Satu drone jatuh di kawasan Krāslava, Latvia, sementara lainnya menghantam fasilitas di Auvere, Estonia. Pejabat Barat menyebut insiden itu sebagai kecelakaan yang kemungkinan dipengaruhi gangguan sistem perang elektronik Rusia.
Di tengah situasi tersebut, Uni Eropa mempercepat penguatan pertahanan di sisi timurnya. Pada Februari, Komisi Eropa mengumumkan rencana pembangunan “tembok drone” yang membentang dari Baltik hingga Laut Hitam, dengan target operasional penuh pada 2027.
Negara-negara Baltik juga mendesak NATO mempercepat pengembangan sistem anti-drone setelah serangkaian pelanggaran wilayah udara.
Komisioner Pertahanan Uni Eropa, Andrius Kubilius, sebelumnya memperingatkan bahwa Rusia berpotensi menguji komitmen pertahanan kolektif NATO sebelum 2030, dengan kawasan Baltik disebut sebagai titik paling rentan.

0Komentar