![]() |
| sebuah kapal barang atau cargo ship berukuran besar yang sedang berada di laut lepas. |
Perdebatan soal penggunaan ledakan nuklir untuk membentuk jalur pelayaran baru kembali mencuat di tengah krisis Selat Hormuz yang memasuki bulan kedua. Gagasan yang berakar dari era Perang Dingin itu kembali dibicarakan setelah mantan Ketua DPR Amerika Serikat, Newt Gingrich, ikut menyinggungnya di ruang publik.
Isu ini mengemuka ketika jalur strategis yang biasanya menjadi lintasan sekitar 20 juta barel minyak per hari itu dilaporkan terganggu akibat eskalasi keamanan di kawasan. Sekitar 3.000 kapal disebut tertahan, sementara harga minyak global ikut bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir.
Warisan proyek Plowshare dan gagasan kanal nuklir
Gagasan kanal berbasis ledakan nuklir pertama kali berkembang di Amerika Serikat pada akhir 1950-an melalui Project Plowshare, program Komisi Energi Atom AS yang dipimpin antara lain oleh fisikawan Edward Teller. Program ini mengeksplorasi kemungkinan penggunaan bahan peledak nuklir untuk tujuan sipil, mulai dari penggalian kanal hingga pembentukan pelabuhan.
Salah satu skenario paling ambisius kala itu adalah pembuatan jalur air melalui Celah Darién yang menghubungkan Atlantik dan Pasifik. Rencana tersebut diperkirakan membutuhkan puluhan hingga ratusan ledakan nuklir untuk menciptakan kanal setara permukaan laut.
Sejumlah ilmuwan saat itu sudah mengingatkan dampak ekologisnya. Para ahli biologi kelautan memperingatkan potensi tercampurnya dua ekosistem laut yang selama jutaan tahun terpisah, termasuk risiko perpindahan spesies lintas samudra secara masif.
Program tersebut akhirnya dihentikan pada pertengahan 1970-an, seiring meningkatnya pembatasan uji coba nuklir internasional melalui Limited Test Ban Treaty 1963 dan tekanan anggaran akibat Perang Vietnam.
Pernyataan Gingrich
Perdebatan lama itu kembali muncul setelah Newt Gingrich membagikan unggahan di platform X pada 15 Maret. Unggahan tersebut mengutip sebuah tulisan di Substack yang menyebut alternatif jalur pelayaran baru untuk menghindari titik sempit strategis.
Dalam unggahan itu, Gingrich menuliskan: "Daripada terus-menerus memperebutkan titik sempit selebar 21 mil, kami bisa membuat jalur baru melalui wilayah sekutu. Selusin ledakan termonuklir dan Anda akan mendapatkan jalur air yang lebih lebar dari Terusan Panama, lebih dalam dari Terusan Suez, dan terlindung dari serangan Iran".
Unggahan tersebut merujuk pada surat terbuka yang disebut sebagai satir dan ditujukan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Dalam surat itu juga terdapat penafian bahwa isi tulisan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi serius.
Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai maksud Gingrich dalam membagikan unggahan tersebut, termasuk apakah pernyataan itu bersifat dukungan atau sekadar menyoroti perdebatan yang lebih luas.
Krisis Selat Hormuz
Konteks perdebatan ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Dalam rangkaian peristiwa yang dilaporkan sejak akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel disebut melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas penting di berbagai wilayah.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kemudian mengambil langkah yang berdampak pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur utama ekspor minyak global. Laporan menyebut arus kapal tanker terhambat, dengan dampak langsung pada distribusi energi dunia.
Pada awal April, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum yang menuntut pembukaan kembali jalur tersebut dalam waktu 48 jam. Ia juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan jembatan di Iran jika akses tidak dipulihkan.
Di hari yang sama, IRGC menyatakan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya. "Tidak akan pernah kembali seperti kondisi semula," ujar IRGC dalam pernyataan yang dikutip media lokal Iran.
Opsi alternatif
Di tengah kebuntuan tersebut, sejumlah opsi alternatif mulai dibahas oleh perencana kebijakan energi dan militer. Beberapa di antaranya mencakup rencana kanal melalui Semenanjung Musandam di Oman serta optimalisasi jalur pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Namun, infrastruktur yang ada dilaporkan sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimum, sehingga ruang penyesuaian dianggap terbatas dalam jangka pendek.
Wacana penggunaan teknologi ekstrem seperti ledakan nuklir, untuk saat ini, tetap berada di luar pembahasan kebijakan formal dan lebih banyak muncul dalam diskusi publik dan sejarah kebijakan lama.

0Komentar