![]() |
| Kaja Kallas, seorang politisi Estonia yang menjabat sebagai Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan. KLAUDIA RADECKA/NURPHOTO |
Uni Eropa (UE) memperingatkan negara-negara Asia Tenggara agar tidak bergantung pada pasokan minyak dari Rusia di tengah kelangkaan bahan bakar global yang dipicu oleh lumpuhnya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan bahwa pembelian energi dari Moskwa secara langsung akan memperkuat pendanaan perang di Ukraina. Imbauan ini disampaikan Kallas di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-UE ke-25 di Bandar Seri Begawan, Brunei, pada Selasa (28/4).
Saat ini, kawasan Asia Tenggara berada dalam posisi sulit setelah penutupan efektif Selat Hormuz sejak Maret lalu memutus jalur distribusi bagi seperlima pasokan minyak dunia.
Ketegangan antara AS-Israel dan Iran yang memuncak pada blokade lalu lintas perairan per 13 April membuat harga energi melonjak dan memaksa banyak negara mencari sumber alternatif.
Kallas menekankan pentingnya bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memutus rantai pendapatan Moskwa demi stabilitas global.
"Izinkan saya mengingatkan bahwa pendapatan dari minyak itulah yang digunakan Rusia untuk mendanai perang ini. Kita semua berkepentingan agar perang ini berakhir," ujar Kallas kepada para wartawan, sebagaimana dikutip dari Reuters. "Itulah mengapa kami tentu saja mendorong diversifikasi sumber daya dan mencarinya dari tempat lain, bukan dari Rusia."
Kebutuhan mendesak akan bahan bakar mentah telah mendorong negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina untuk menjajaki opsi minyak Rusia yang harganya cenderung lebih kompetitif.
Upaya pengamanan pasokan domestik ini bertolak belakang dengan kebijakan Brussel yang baru saja mengesahkan paket sanksi ke-20 terhadap Moskwa pada 23 April. Sanksi terbaru tersebut mencakup pengetatan perdagangan minyak dan persiapan larangan layanan maritim bagi pengiriman mentah asal Rusia.
Penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal perdamaian Iran untuk membuka kembali selat strategis tersebut kian memperkeruh situasi.
Di tengah ketidakpastian jalur distribusi global, UE tetap pada pendiriannya untuk mengisolasi ekonomi Rusia, meskipun kebijakan internal mereka masih menyisakan celah melalui pengiriman pipa ke Hungaria dan Slovakia.
Pertemuan di Brunei juga menyoroti upaya Jerman untuk meningkatkan status hubungan kedua blok menjadi kemitraan strategis komprehensif pada 2027.
Menteri Negara Jerman, Thomas Hahn, menyebut kolaborasi ini penting mengingat posisi UE sebagai mitra dagang terbesar ketiga ASEAN. Berdasarkan data Komisi Eropa, total perdagangan barang bilateral mencapai €258,7 miliar pada 2024, dengan investasi langsung UE ke kawasan mencapai €400,1 miliar pada 2022.
Meskipun tekanan diplomatik menguat, realitas ekonomi di lapangan menjadi tantangan besar. Belum ada konformasi resmi apakah isu sensitif mengenai minyak Rusia ini dibahas secara eksplisit dalam sesi tertutup para menteri.
Brussel kini harus beradu cepat dengan kebutuhan mendasar negara-negara Asia Tenggara yang memerlukan energi murah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik mereka di tengah krisis Selat Hormuz yang belum menemui titik terang.

0Komentar