Presiden Donald J. Trump menyampaikan pidato di Verst Logistics Manufacturing di Hebron, Kentucky pada hari Rabu, 11 Maret 2026. | WHITE HOUSE/JOYCE N. BOGHOSIAN


Presiden Amerika Serikat Donald Trump menawarkan pasokan minyak AS kepada negara-negara yang terdampak gangguan distribusi energi global akibat konflik Iran dan ketegangan di Selat Hormuz. Tawaran itu disampaikan saat volatilitas pasokan minyak meningkat menyusul pembatasan akses pelayaran di jalur energi strategis tersebut.

Dalam pidato di Gedung Putih pada Rabu (1/4) waktu setempat, Trump menyebut negara-negara yang kesulitan memperoleh bahan bakar dapat beralih ke energi asal AS. Ia menilai ketergantungan pada jalur pengiriman Timur Tengah kini menjadi risiko besar di tengah eskalasi militer kawasan.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Jalur laut ini selama puluhan tahun menjadi titik utama pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan keamanan langsung berdampak pada stabilitas harga dan distribusi energi internasional. Sejumlah negara importir menghadapi ketidakpastian pasokan seiring meningkatnya risiko pelayaran.

Trump memposisikan produksi energi domestik AS sebagai alternatif. Menurutnya, peningkatan eksplorasi dan produksi dalam negeri membuat AS mampu memasok kebutuhan energi negara lain tanpa bergantung pada kawasan Timur Tengah.

“Kepada negara-negara yang tidak dapat memeroleh bahan bakar, yang banyak di antaranya menolak untuk terlibat dalam penargetan Iran, saya punya saran. Pertama, beli minyak dari Amerika Serikat. Kami punya banyak (minyak). Kami punya begitu banyak,” kata Trump, seperti dikutip dari kanal YouTube The White House.

Ia juga mengklaim kapasitas produksi energi AS saat ini melampaui gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Pernyataan tersebut, menurut Trump, bahkan tidak memasukkan potensi tambahan pasokan dari Venezuela.

“AS memproduksi lebih banyak minyak dan gas daripada Arab Saudi dan Rusia. Bayangkan itu, gabungan Arab Saudi dan Rusia,” ujarnya.

Trump menambahkan AS kini hampir tidak lagi bergantung pada minyak yang melewati Selat Hormuz. Ia mengatakan negaranya tidak akan mengimpor minyak melalui jalur tersebut di masa depan, seiring peningkatan produksi domestik.

Dalam pidatonya, Trump turut menyatakan pemerintahannya telah melemahkan Iran secara militer dan ekonomi. Ia memprediksi jalur pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal setelah konflik mereda, karena Iran dinilai tetap membutuhkan ekspor minyak untuk memulihkan ekonominya.

“Ini akan kembali normal dengan sendirinya. Mereka (Iran) akan ingin menjual minyak karena itulah satu-satunya yang mereka miliki untuk mencoba membangun kembali perekonomian. Aliran minyak akan kembali normal dan harga gas akan turun dengan cepat,” kata Trump.