kapal intelijen elektronik milik Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN). | AUSTRALIAN DEPARTEMENT OF DEFENSE


Kapal perang China memasuki Laut Jepang melalui Selat Tsushima pada pekan ini, bertepatan dengan penyelesaian penyebaran rudal serangan jarak jauh terbaru Jepang di wilayah barat daya negara itu. Pergerakan militer yang berlangsung hampir bersamaan ini menandai meningkatnya ketegangan keamanan antara dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia Timur.

Staf Gabungan Jepang melaporkan lima kapal angkatan laut China bergerak ke arah timur laut melintasi Selat Tsushima sebelum memasuki Laut Jepang. Aset Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dikerahkan untuk memantau perjalanan armada tersebut.

Informasi yang dikutip South China Morning Post menyebut transit itu terjadi pada hari yang sama ketika Tokyo merampungkan penempatan sistem rudal anti-kapal jarak jauh terbaru, Type 25. Sistem tersebut mulai beroperasi di Camp Kengun, Prefektur Kumamoto, sementara proyektil gliding hipersonik ditempatkan di Camp Fuji di Prefektur Shizuoka.

Rudal Type 25 dikembangkan oleh Mitsubishi Heavy Industries dengan jangkauan sekitar 1.000 kilometer. Jarak itu dinilai cukup untuk menjangkau wilayah pesisir China, termasuk Shanghai yang berjarak sekitar 900 kilometer dari Kumamoto

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negaranya. 

“Memberdayakan kami untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh kekuatan musuh yang berupaya menyerang negara kami sambil menjaga keselamatan personel kami,” ujarnya.

Respons keras Beijing

Pemerintah China segera mengecam langkah Tokyo. Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning menyebut penyebaran rudal itu sebagai bentuk “militerisme baru”.

Ia mengatakan Beijing “sangat prihatin” dan menilai Jepang menempatkan senjata ofensif dengan dalih pertahanan diri. Menurutnya, langkah tersebut “jauh melampaui ruang lingkup pertahanan diri”.

Kementerian Pertahanan China sebelumnya juga memperingatkan bahwa penguatan kemampuan rudal Jepang telah berkembang menjadi ancaman nyata bagi stabilitas kawasan. Pernyataan itu disampaikan bulan lalu melalui kantor berita Xinhua.

Pergeseran strategi keamanan Jepang

Ketegangan terbaru muncul di tengah memburuknya hubungan bilateral dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan kedua negara memburuk sejak November 2025 setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan di parlemen bahwa kemungkinan serangan China terhadap Taiwan dapat menjadi “krisis eksistensial bagi Jepang”.

Pernyataan tersebut diikuti langkah balasan Beijing berupa pembatasan perjalanan, penghentian impor makanan laut dari Jepang, serta pembatasan ekspor logam tanah jarang.

Sejak itu, Tokyo mempercepat perubahan postur militernya. Pada 23 Maret, Jepang melakukan reorganisasi besar Pasukan Bela Diri dengan membentuk Angkatan Permukaan Armada baru serta Komando Peperangan dan Operasi Informasi.

Kabinet Jepang juga menyetujui anggaran pertahanan rekor sebesar 9,04 triliun yen atau sekitar US$58 miliar untuk tahun fiskal 2026. Anggaran itu menjadi bagian dari rencana lima tahun untuk meningkatkan belanja militer hingga setara 2% dari produk domestik bruto. Buku putih pertahanan Jepang 2025 secara terbuka menyebut China sebagai “tantangan strategis terbesar”.

Tokyo merencanakan penempatan tambahan rudal Type 25 di Hokkaido dan Miyazaki pada Maret 2028. Jepang juga menargetkan kapal perusaknya mulai dilengkapi rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat pada akhir tahun ini.