Presiden Amerika Serikat. | WHITE HOUSE

Pemerintahan Donald Trump tengah menimbang operasi militer berisiko tinggi untuk mengambil persediaan uranium yang diperkaya milik Iran dari fasilitas bawah tanah. Rencana itu muncul di tengah perang Iran yang telah memasuki minggu kelima, dengan sinyal yang berubah-ubah dari Trump soal urgensi dan biaya misi tersebut.

Militer Amerika Serikat menyodorkan skenario penyitaan hampir 1.000 pon uranium yang diperkaya hingga 60%—tingkat yang dinilai mendekati ambang kebutuhan senjata nuklir. Material itu diyakini tersimpan di kompleks terowongan di Isfahan dan sebagian di Natanz. 

International Atomic Energy Agency (IAEA) memperkirakan total cadangan Iran sekitar 440 kilogram, sebagian terkubur di bawah reruntuhan setelah serangan gabungan AS-Israel pada Juni lalu.

Rencana ini disusun di tengah kekhawatiran bahwa material tersebut tetap dapat diakses kembali ketika intensitas konflik mereda. Sejumlah laporan media Barat menyebutkan tenggat dua minggu yang ditetapkan Trump untuk memastikan uranium itu diamankan atau dihancurkan.

Operasi kompleks di wilayah musuh

Para perencana militer menggambarkan misi ini jauh dari operasi kilat. Pasukan harus masuk jauh ke wilayah Iran, mengamankan perimeter di beberapa lokasi, lalu menggali terowongan yang tertutup puing. Uranium disebut disimpan dalam silinder tertutup, sehingga proses pencarian dan evakuasi membutuhkan waktu berhari-hari.

Mantan komandan NATO James Stavridis menyebut skenario tersebut berpotensi menjadi "operasi pasukan khusus terbesar dalam sejarah," dengan kebutuhan lebih dari 1.000 personel di lapangan.

Pakar nonproliferasi dari Universitas Columbia, Richard Nephew, menjelaskan kompleksitas medan. "Anda tidak bisa begitu saja masuk dan mengambil simpanan Isfahan," ujarnya kepada Foreign Policy. "Simpanan itu ada di terowongan yang pintu masuknya terkubur. Jadi, Anda harus menggalinya, dan Anda tidak bisa melakukan itu saat sedang diserang".

Selain itu, operasi membutuhkan kendali atas landasan udara terdekat atau pembangunan fasilitas darurat untuk mengangkut alat berat dan material nuklir keluar dari Iran.

Pengerahan militer meningkat

Pembahasan berlangsung bersamaan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah. Ribuan personel Divisi Airborne ke-82 mulai dikerahkan setelah mendapat persetujuan presiden. Dua unit ekspedisi Marinir juga telah bergerak ke kawasan, sementara gugus tugas kapal induk yang dipimpin USS George H.W. Bush berlayar menuju wilayah Komando Pusat AS.

Pejabat di Washington juga mempertimbangkan opsi lain untuk menekan Iran, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg—pusat pemrosesan sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran—sebagai alat tawar dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Mungkin kita akan merebut Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak pilihan," kata Trump kepada Financial Times.

Sikap yang berubah-ubah

Dalam beberapa hari terakhir, pernyataan Trump mengenai uranium Iran bergerak tidak konsisten. Pada 29 Maret, ia menuntut Teheran menyerahkan "debu nuklir" mereka atau menghadapi kehancuran. Dua hari kemudian, ia menyebut material tersebut "sangat dalam tertimbun" dan relatif aman.

Dalam wawancara dengan Reuters pada 1 April, Trump bahkan mengatakan Iran "tidak mampu" memperoleh senjata nuklir saat ini. Ia menambahkan uranium tersebut berada "sangat jauh di bawah tanah, saya tidak peduli soal itu".

Namun kalangan ahli menilai penilaian itu berisiko. Menurut Nephew, keberadaan uranium yang masih utuh dapat menjadi celah bagi Iran ketika konflik mereda. "Anda benar-benar telah membuka pintu bagi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir ketika drone dan rudal berhenti beterbangan," ujarnya.