Ilustrasi sebuah manometer atau alat pengukur tekanan yang terpasang pada infrastruktur pipa gas bumi. | SHUTTERSTOCK


Rusia menawarkan bantuan pasokan energi kepada negara-negara Asia Tenggara di tengah gangguan pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyampaikan kesiapan itu dalam pertemuan dengan para duta besar ASEAN di Moskwa, sebagaimana dilaporkan The Manila Times.

Pertemuan tersebut berlangsung saat kawasan menghadapi tekanan pasokan energi menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Sejak akhir Februari 2026, gangguan berulang di Selat Hormuz yang memicu lonjakan ketidakpastian. Serangan militer juga merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk fasilitas LNG di Qatar yang diserang pada 19 Maret dan berpotensi mengganggu kapasitas produksi dalam jangka panjang.

Di tengah situasi itu, Lavrov menyatakan Moskwa siap membantu kebutuhan energi mendesak negara-negara ASEAN. Kedutaan Besar Rusia menyebut tawaran tersebut mencakup pasokan minyak untuk meredam tekanan yang kini dirasakan banyak negara pengimpor energi di Asia Tenggara.

Tekanan ekonomi mulai terasa. United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific memperkirakan pertumbuhan kawasan Asia-Pasifik bisa melambat menjadi sekitar 4% pada 2026, turun dari 4,6% pada 2025. 

Negara seperti Filipina, Laos, dan Kamboja dinilai paling rentan karena ketergantungan tinggi pada impor energi. Indonesia, Thailand, dan Malaysia juga masih bergantung pada impor untuk lebih dari 60% kebutuhan minyak mentah mereka.

Pembicaraan energi ini berjalan beriringan dengan penguatan hubungan ekonomi yang lebih luas. Dalam pertemuan Komite Kerja Sama Bersama ASEAN–Rusia ke-24 di Jakarta awal April, kedua pihak sepakat memperluas kerja sama di sektor manufaktur, infrastruktur, hingga teknologi tinggi. Nilai perdagangan bilateral disebut mencapai sekitar US$21,6 miliar.

Di sektor energi, kerja sama diarahkan pada stabilitas pasokan, optimalisasi gas alam, serta pengembangan energi rendah karbon dan nuklir. Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, disebut akan mempererat kolaborasi dengan Pusat Energi ASEAN.

Langkah diplomatik ini juga mengikuti kesepakatan energi antara Rusia dan Vietnam pada akhir Maret, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga nuklir serta kerja sama minyak dan gas. Dalam beberapa tahun terakhir, ekspor energi Rusia ke Asia Tenggara terus meningkat, dengan impor bahan bakar mineral oleh ASEAN hampir dua kali lipat dalam periode 2020–2024.