Presiden AS, Donald Trump. WHITE HOUSE

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, hanya beberapa jam sebelum masa berlaku kesepakatan sebelumnya berakhir. Keputusan ini menandai perubahan sikap mendadak setelah sebelumnya ia menyatakan perpanjangan “sangat tidak mungkin” dilakukan.

Langkah tersebut diambil di tengah kebuntuan diplomasi dan tekanan dari Pakistan, yang berperan sebagai mediator sejak awal konflik mereda pada awal April. Gencatan senjata semula menghentikan operasi militer AS sebagai imbalan atas dibukanya kembali Selat Hormuz oleh Iran.

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut kondisi politik internal Iran sebagai salah satu pertimbangan, selain komunikasi langsung dengan pimpinan Pakistan. 

“Oleh karena itu saya telah menginstruksikan Militer kita untuk melanjutkan Blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, serta akan memperpanjang Gencatan Senjata hingga proposal mereka disampaikan dan perundingan diselesaikan, apa pun hasilnya,” tulisnya.

Keputusan itu berbanding terbalik dengan pernyataannya sehari sebelumnya. Dalam wawancara dengan Bloomberg, Trump mengatakan kecil kemungkinan memperpanjang gencatan senjata setelah batas waktu “Rabu malam waktu Washington”. Ia juga sempat menyampaikan hal serupa kepada CNBC pada hari yang sama.

Gencatan senjata ini berawal dari kesepakatan 7 April setelah mediasi Pakistan. Putaran awal perundingan di Islamabad pada 11–12 April berlangsung selama 21 jam namun gagal mencapai kesepakatan, terutama terkait program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Ketegangan meningkat setelah AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran pada 13 April.

Rencana perundingan lanjutan juga tidak berjalan. Kantor berita resmi Iran, IRNA, pada 19 April melaporkan Teheran menolak hadir dengan alasan tuntutan Washington dinilai berlebihan dan tidak konsisten. Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menyebut komunikasi dari pihak AS sebagai “permainan media” dan “saling lempar kesalahan”.

Situasi ini turut berdampak pada agenda diplomatik Washington. Wakil Presiden AS JD Vance menunda kunjungannya ke Islamabad setelah Iran tidak merespons proposal terbaru. Seorang pejabat AS kepada The New York Times menyebut proses diplomasi tersebut “pada dasarnya dihentikan sementara”.

Peran Pakistan menjadi kunci dalam keputusan terbaru Trump. Marsekal Lapangan Asim Munir diketahui melakukan kunjungan ke Teheran dan bertemu dengan para pemimpin Iran. Ia menyampaikan bahwa blokade laut menjadi hambatan utama bagi kelanjutan perundingan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga terlibat dalam komunikasi intens dengan Washington.

Menurut laporan Reuters, Islamabad meyakinkan AS bahwa sikap Iran yang menolak perundingan mencerminkan perpecahan internal, bukan penolakan total terhadap jalur diplomasi.

Meski gencatan senjata kini diperpanjang tanpa batas waktu, blokade laut AS tetap berlaku dan militer masih dalam status siaga. Konflik untuk sementara membeku, dengan kelanjutan proses bergantung pada proposal baru dari Teheran.