![]() |
| Kapal selam bertenaga nuklir canggih kelas Yasen. TASS/Lev Fedoseyev |
Aliansi NATO meningkatkan operasi pemburuan kapal selam di kawasan Arktik dan Atlantik Utara seiring meningkatnya aktivitas bawah laut Rusia. Langkah ini menandai kembalinya pola konfrontasi senyap ala Perang Dingin di wilayah strategis tersebut.
Laporan Bloomberg pada 21 April menyebutkan, kapal selam nuklir Rusia yang semakin canggih membuat angkatan laut Barat kesulitan mendeteksi pergerakan mereka. Situasi ini mendorong NATO memperluas jangkauan pengawasan hingga ke Laut Barents, wilayah yang menjadi jalur keluar utama armada bawah laut Moskwa menuju samudra terbuka.
Operasi pemantauan NATO di wilayah utara berpusat di Markas Besar Gabungan Norwegia di Reitan, dekat Bodø. Fasilitas ini dibangun di dalam lereng gunung dan berfungsi sebagai pusat kendali untuk melacak pergerakan Armada Utara Rusia.
Dari lokasi tersebut, perwira sekutu memantau kapal selam Rusia yang dinilai sebagai salah satu komponen militer paling kuat dalam arsenal Moskwa. Tantangan utama yang dihadapi adalah kemampuan kapal selam Rusia yang terus ditingkatkan, termasuk kemampuan menyelam hingga kedalaman sekitar 4.000 meter.
Kepala Markas Besar Gabungan Norwegia, Wakil Laksamana Rune Andersen, menyebut aktivitas NATO di kawasan itu meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menjelaskan peningkatan tersebut dipicu oleh intensitas operasi Rusia di luar wilayahnya. "Kehadiran dan aktivitas NATO telah lebih dari dua kali lipat dalam dua hingga tiga tahun terakhir," kata Andersen kepada Business Insider. Ia menambahkan, peningkatan itu didorong oleh "peningkatan pengerahan kapal selam Rusia di luar wilayahnya".
Ketegangan terbaru terlihat pada awal April ketika Inggris dan Norwegia melacak satu kapal selam serang kelas Akula milik Rusia bersama dua kapal selam intelijen selama lebih dari satu bulan.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengungkapkan operasi tersebut menyasar kapal-kapal yang beroperasi di sekitar kabel bawah laut dan jaringan pipa di Atlantik Utara. Kapal selam intelijen yang berada di bawah Direktorat Utama Riset Laut Dalam Rusia atau GUGI diduga tengah memetakan infrastruktur penting, termasuk jalur data internet dan transaksi keuangan global.
Operasi itu berakhir tanpa laporan kerusakan pada infrastruktur. Namun, aktivitas tersebut memperkuat kekhawatiran Barat terhadap potensi ancaman terhadap jaringan vital bawah laut.
Sebagai respons, negara-negara NATO mempercepat investasi pada kemampuan perang antikapal selam. Inggris, Norwegia, dan Jerman memperkuat koordinasi melalui pengadaan kapal selam baru, fregat, serta pesawat patroli maritim Boeing P-8A Poseidon.
Jerman menerima unit pertama dari delapan pesawat P-8A pada November 2025, menyusul Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia yang lebih dulu mengoperasikannya. Pesawat ini digunakan dalam operasi gabungan untuk mendeteksi dan melacak kapal selam Rusia.
Di tingkat latihan, NATO menggelar Cold Response 26, latihan militer terbesar di kawasan Arktik sejak 2022. Latihan tersebut melibatkan sekitar 32.500 personel dari 14 negara dan berfokus pada skenario peperangan antikapal selam.
Media Norwegia High North News melaporkan Oslo kini mengambil peran lebih besar dalam operasi pemburuan kapal selam di kawasan utara, bekerja sama erat dengan Inggris dan Jerman.
Aktivitas militer yang meningkat ini berlangsung di tengah perhatian global yang masih tertuju pada konflik lain, namun kawasan Arktik dan Atlantik Utara kembali menjadi arena persaingan strategis yang semakin intens di bawah permukaan laut.

0Komentar