Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. | WHITE HOUSE


Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal diplomatik terbaru dari Teheran dan memilih untuk memperpanjang blokade angkatan laut tanpa batas waktu. 

Trump mengklaim bahwa Iran saat ini berada dalam "kondisi kolaps" dan tengah memohon pembukaan kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz di tengah krisis kepemimpinan pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka sedang dalam 'Kondisi Kolaps.' Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz,' sesegera mungkin, sementara mereka berupaya menata situasi kepemimpinan mereka (Yang saya yakin akan mampu mereka selesaikan!)," tulis Trump melalui unggahan di Truth Social pada Selasa tanpa melampirkan bukti pendukung.

Keputusan untuk tetap menekan Teheran diambil setelah pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih pada Senin lalu. 

Laporan The New York Times menyebutkan bahwa Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap tawaran yang dibawa oleh mediator Pakistan. Meskipun Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi adanya diskusi mengenai proposal tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang mempertimbangkannya secara serius.

Syarat Nuklir jadi ganjalan utama

Proposal yang diajukan Iran sebenarnya menawarkan pendekatan bertahap untuk meredakan ketegangan yang memuncak sejak serangan militer AS-Israel pada akhir Februari. 

Menurut laporan NBC News, fase pertama yang diinginkan Iran adalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade pelabuhan oleh AS. Sebagai imbalannya, isu sengketa program nuklir akan dibahas pada putaran perundingan berikutnya.

Namun, poin mengenai penundaan isu nuklir tersebut ditolak mentah-mentah oleh petinggi di Washington. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa AS tidak akan memberikan kelonggaran ekonomi sebelum ada jaminan terkait ambisi nuklir Iran.

"Kita harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat benar-benar mencegah mereka untuk bergegas menuju senjata nuklir kapan pun," kata Rubio dalam wawancara dengan Fox News.

Para pejabat AS khawatir jika Selat Hormuz dibuka sebelum Iran menangani stok uranium yang hampir mencapai kadar senjata, maka AS akan kehilangan kartu truf diplomatik terkuatnya. 

Laporan CNN mengisyaratkan bahwa menerima tawaran "setengah jalan" ini dikhawatirkan justru akan menghambat momentum kemenangan diplomatik total yang diincar oleh pemerintahan Trump.

Ketidakpastian di Teheran

Di internal Iran, situasi dilaporkan terus memburuk sejak kematian Ali Khamenei dalam serangan 28 Februari lalu. Dewan Kepemimpinan Sementara yang kini memegang kendali dilaporkan terjepit di antara persaingan faksi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan militer reguler.

Krisis suksesi ini dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat posisi tawar Iran melemah. Rubio menyoroti bahwa friksi antara kelompok-kelompok "garis keras" di Teheran membuat proses negosiasi menjadi sangat sulit diprediksi dan menemui jalan buntu.

Blokade yang diberlakukan AS sejak April terus memberikan dampak nyata pada logistik regional. Data dari Komando Pusat AS (US Central Command) menunjukkan sedikitnya 38 kapal telah dihentikan atau dialihkan hingga akhir pekan lalu. Iran membalas tindakan tersebut dengan menutup jalur bagi lalu lintas maritim asing dan melakukan penyitaan kapal-kapal tertentu di kawasan tersebut.

Meski tensi terus memanas, Trump menegaskan blokade akan tetap berjalan hingga proses perundingan selesai sepenuhnya dengan cara apa pun yang dianggap perlu oleh AS.