Presiden Trump berbicara selama konferensi pers tentang serangan AS terhadap Iran di Trump National Doral Miami pada 9 Maret. | WHITE HOUSE

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk memblokade Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran di Islamabad, Pakistan, kandas pada Minggu (12/4/2026). Pengumuman itu datang cepat, hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Pakistan dengan tangan kosong.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi blokade terhadap seluruh lalu lintas kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran akan efektif mulai Senin pukul 10.00 ET (Senin malam WIB). Blokade dikecualikan bagi kapal-kapal yang melintasi selat menuju pelabuhan di luar Iran.

21 jam tanpa hasil

Perundingan di Hotel Serena, Islamabad, merupakan pertemuan tatap muka pertama antara AS dan Iran sejak kesepakatan nuklir 2015 era Obama—sekaligus yang tertinggi levelnya sejak Revolusi Islam 1979. Delegasi AS dipimpin langsung oleh Vance, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Trump mengakui sebagian besar poin berhasil disepakati, namun satu isu yang ia sebut paling krusial tidak menghasilkan titik temu. "Pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin sudah disepakati, tapi satu-satunya hal yang benar-benar penting, NUKLIR, tidak," tulis Trump di Truth Social.

Iran bersikukuh mempertahankan program pengayaan uraniumnya dan menolak memberikan komitmen tertulis untuk meninggalkan ambisi senjata nuklir. Di sisi lain, Teheran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, gencatan senjata menyeluruh di kawasan termasuk Lebanon, serta pembebasan aset-aset bekunya di luar negeri.

"Kami tidak mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran, jauh lebih buruk dibanding bagi AS... Mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad sebelum bertolak kembali ke AS.

Blokade dan ancaman militer

Trump menegaskan blokade bukan sekadar gertakan. Selain menutup akses kapal ke pelabuhan Iran, AS juga akan mengejar dan menahan setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar tol kepada Iran. 

"Tidak ada yang membayar tol ilegal dan mendapat jaminan keselamatan di laut bebas," ujar Trump.

Iran memang telah memungut tol hingga US$2 juta per kapal untuk melintas di selat yang selama ini dikuasainya. Praktik itu memantik kemarahan Trump yang menyebutnya sebagai pemerasan internasional.

Pasukan AS juga akan mulai menghancurkan ranjau laut yang dipasang Iran di sepanjang selat. Dua kapal perang AS tercatat sudah melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/4) dalam operasi pembersihan ranjau—pertama kalinya sejak perang pecah. 

"Siapa pun orang Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan DILEDAKKAN KE NERAKA!" tulis Trump dalam postingannya.

Trump juga menyebut Inggris dan beberapa negara lain akan mengirimkan kapal penyapu ranjau. Namun Inggris belum mengonfirmasi hal itu secara resmi, dan dilaporkan tidak bergabung dalam blokade. Trump juga mengkritik NATO yang dinilainya tidak memberikan dukungan memadai.

Teheran balik mengancam

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz "akan ditangani dengan keras dan tegas." Ghalibaf, yang juga menjadi negosiator utama Iran di Islamabad, merespons ancaman blokade dengan memposting foto papan harga BBM di dekat Gedung Putih di akun X-nya.

"Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade', kalian akan segera merindukan bensin seharga US$4–5," tulis Ghalibaf.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran masuk ke meja perundingan dengan itikad baik, namun menghadapi "maksimalisme, tuntutan yang terus bergeser, dan blokade" dari pihak AS.

Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia—sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur sempit di lepas pantai selatan Iran itu setiap harinya. Sejak Iran menguasai selat tersebut setelah perang meletus 28 Februari lalu, lalu lintas kapal nyaris mandek dan harga minyak sempat melonjak melampaui US$100 per barel.

Blokade AS berpotensi memperparah krisis itu. Seorang analis energi mengingatkan bahwa pasar sudah menghadapi defisit sekitar 7 juta barel minyak mentah dan 4 juta barel produk turunan per hari akibat terputusnya jalur tersebut.

Gencatan senjata di ujung tanduk

Kegagalan perundingan Islamabad membayangi nasib gencatan senjata dua minggu yang baru saja disepakati kedua pihak. Trump menegaskan gencatan itu tetap berlaku selama Iran membuka selat bagi semua pihak, sementara laporan dari CNN menyebut AS dan timnya sedang menyiapkan rencana untuk mematahkan cengkeraman Iran atas selat.

Sumber-sumber juga menyebut Trump tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas untuk menekan Iran kembali ke meja perundingan. 

Dalam wawancara di Fox News, Trump secara terang-terangan menyinggung kemungkinan menyerang infrastruktur vital Iran. "Saya tidak ingin melakukannya, tapi itu air mereka, rencana desalinasi mereka, pembangkit listrik mereka, yang sangat mudah untuk dihantam," ujarnya.

Pakistan, selaku tuan rumah perundingan, menyatakan masih berharap kedua pihak bisa kembali berunding. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut pembicaraan di Islamabad sebagai "intens dan konstruktif" dan menegaskan negaranya siap memfasilitasi dialog lanjutan.

Vance menyatakan tawaran AS masih terbuka. "Kami meninggalkan tempat ini dengan satu proposal sederhana—pemahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik kami. Kita lihat apakah Iran menerimanya," katanya.