Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance.

Perundingan intensif antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan. Kegagalan ini terjadi di tengah upaya meredakan konflik yang telah memasuki minggu ketujuh antara kedua pihak.

Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan hasil tersebut pada Minggu dini hari, menyebut tidak adanya komitmen tegas dari Teheran terkait pembatasan program nuklirnya. Delegasi AS dipimpin Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, sementara Iran diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Pertemuan ini menjadi kontak tingkat tinggi paling signifikan antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran 1979. Pakistan bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan yang dimulai Sabtu sore waktu setempat dan berlanjut hingga Minggu pagi.

Negosiasi berlangsung di bawah bayang-bayang gencatan senjata rapuh yang diumumkan sebelumnya oleh Presiden AS Donald Trump. Konflik dipicu oleh serangan militer AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari.

Sejumlah isu krusial menjadi pengganjal, termasuk stok uranium yang diperkaya Iran, kendali atas Selat Hormuz, pengembangan rudal, serta dukungan Teheran terhadap kelompok proksi di kawasan. Iran menuntut pelonggaran sanksi, penghentian permanen serangan udara, dan penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut.

Sebelum keberangkatan ke Islamabad, Vance menegaskan posisi Washington. “Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu siap mengulurkan tangan,” ujarnya kepada wartawan.

Setelah perundingan berakhir tanpa hasil, ia menilai kegagalan ini lebih merugikan Iran. AS, kata dia, telah bersikap “cukup fleksibel” selama pembicaraan berlangsung, tetapi tidak mendapatkan “komitmen tegas” dari pihak Iran.

Trump juga menyampaikan dukungannya terhadap Vance. “Dia tidak perlu membuktikan apa pun karena dia sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Dia tidak perlu membuktikan apa pun,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan New York Post.

Vance menolak membeberkan secara rinci titik-titik kebuntuan dalam negosiasi. Namun ia memperingatkan bahwa kegagalan diplomasi dapat berdampak serius bagi Teheran.

Trump, secara terpisah, mengklaim AS telah berada di posisi unggul dalam konflik tersebut dan membuka kemungkinan eskalasi militer jika tidak ada kesepakatan baru.

Media pemerintah Iran sebelumnya memberi sinyal bahwa pembicaraan masih mungkin dilanjutkan, meski delegasi AS dilaporkan telah kembali tanpa membawa hasil konkret.