Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraannya pada hari Selasa, 24 Februari 2026, di ruang sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, DC. WHITE HOUSE/DANIEL TOROK

Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Senin pagi, dan hanya beberapa jam berselang, Presiden Donald Trump mengklaim Teheran telah menghubungi Washington untuk meminta kelanjutan negosiasi.

"Kami sudah dihubungi oleh pihak lain," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih. "Mereka ingin membuat kesepakatan. Sangat ingin, sangat ingin sekali."

Blokade mulai berlaku pukul 10.00 EDT dan mencakup seluruh kapal yang berlayar menuju maupun dari pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman, menurut Komando Pusat AS. Kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran tidak terdampak. Trump memperingatkan kapal Iran mana pun yang mendekati zona blokade akan "segera DILENYAPKAN."

Langkah itu datang setelah pembicaraan akhir pekan di Islamabad berakhir buntu. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bertemu negosiator Iran dalam sesi maraton, namun gagal menghasilkan kesepakatan.

Vance menyebut satu hambatan utama yang tak bisa ditembus: Iran menolak melepaskan program nuklirnya. 

"Syarat utamanya adalah kami membutuhkan jaminan yang jelas bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir, maupun berupaya memperoleh sarana untuk mengembangkannya dengan cepat," ujarnya sebelum meninggalkan Pakistan.

Mengutip CBS News, para delegasi Iran tidak bersedia menyetujui penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama, pengambilan kembali uranium yang telah diperkaya tinggi, maupun pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pemungutan biaya. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi ia telah diberi tahu Vance bahwa isu intinya adalah "penarikan semua material yang telah diperkaya dan memastikan tidak ada lagi pengayaan."

Iran belum secara terbuka mengakui adanya pendekatan ke Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menuding kegagalan perundingan pada "tuntutan berlebihan dan posisi yang terus berubah" dari pihak AS. Media pemerintah Iran melaporkan Teheran "tidak memiliki rencana untuk putaran perundingan berikutnya."

Namun di balik pernyataan resmi itu, keterlibatan diam-diam tampaknya masih berjalan. Seorang pejabat AS menyampaikan kepada CBS News bahwa ada "kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan."

Pakistan, tuan rumah perundingan yang memosisikan diri sebagai mediator kunci, tengah mendorong putaran kedua sebelum gencatan senjata saat ini berakhir sekitar 22 April. 

Islamabad bahkan telah menamakan ulang proses ini sebagai "Islamabad Process" — sebuah upaya untuk menegaskan bahwa ini bukan sekadar pertemuan tunggal yang gagal, melainkan jalur diplomatik yang berkelanjutan.

Ketika ditanya apakah blokade itu bertujuan memaksa Iran kembali ke meja perundingan atau menurunkan harga energi, Trump menjawab singkat: "Mungkin semuanya."