Libra Trader, sebuah kapal pengangkut minyak mentah (Crude Oil Tanker) jenis Very Large Crude Carrier (VLCC).


Ketidakpastian menyelimuti pasar energi global setelah masa berlaku keringanan sanksi Amerika Serikat atas minyak Rusia resmi berakhir pada Sabtu, 11 April. Hingga awal pekan ini, pemerintahan Donald Trump belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait perpanjangan pengecualian tersebut, sebuah langkah yang berisiko memperketat pasokan di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Kebijakan "keringanan 30 hari" ini sejatinya diperkenalkan Menteri Keuangan Scott Bessent pada Maret lalu sebagai katup penyelamat pasar. Langkah ini diambil guna menjamin kelancaran arus minyak mentah dan produk minyak bumi Rusia yang telah dimuat di kapal, terutama saat penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel dengan Iran memicu kelangkaan pasokan global.

Sinyal dari Washington sendiri tampak simpang siur. The New York Times melaporkan bahwa AS memilih untuk tidak memperpanjang pengecualian tersebut. Namun, laporan Reuters pekan lalu menyebut adanya kesepakatan antara Presiden Trump dan Bessent dalam pertemuan di Oval Office bahwa perpanjangan tersebut merupakan "ide yang bagus".

Kekosongan keputusan ini langsung memantik reaksi pasar. Harga minyak mentah melonjak pada Senin (13/4) menyusul kegagalan dialog damai AS-Iran di Pakistan dan pengumuman blokade angkatan laut di Selat Hormuz oleh Trump. Di pasar fisik, harga minyak mentah Urals Rusia bahkan sempat menyentuh angka US$121 per barel, hampir dua kali lipat dari asumsi anggaran federal Rusia sebesar US$59 per barel.

Di tengah tekanan sanksi, India tetap pada pendiriannya untuk tidak mengurangi volume impor dari Rusia. Sebagai pembeli utama, kilang-kilang di India mengaku memiliki pilihan alternatif yang terbatas untuk menjaga ketahanan energi domestik. Data Kpler menunjukkan impor minyak Rusia ke India menyentuh angka 1,98 juta barel per hari pada Maret, level tertinggi dalam hampir setahun terakhir.

Pemerintah India bahkan melangkah lebih jauh dengan mengincar pengecualian tambahan. "Kami juga tengah berupaya mendapatkan pengecualian yang lebih luas dari Washington untuk gas alam cair asal Rusia," lapor Times of India. Selain itu, New Delhi sedang menegosiasikan pembaruan pengecualian untuk minyak mentah Iran yang dijadwalkan berakhir pada 19 April mendatang.

Upaya diplomasi untuk mengamankan akses energi juga dilakukan oleh negara-negara Asia lainnya. Presiden Indonesia Prabowo Subianto tiba di Moskwa pada Senin (13/4) untuk menemui Presiden Vladimir Putin guna membahas kerja sama ketahanan energi. Sementara itu, Filipina terus menjalin komunikasi intensif dengan pihak AS.

Duta Besar Filipina, Jose Manuel G. Romualdez, menjelaskan bahwa proses diskusi mengenai akses energi ini masih sangat dinamis. "Ini merupakan proses yang masih berjalan," ujar Romualdez saat menggambarkan negosiasi antara Manila dan Washington.

Dinamika ini menandai pergeseran besar dalam lanskap perdagangan energi global. Minyak Rusia, yang sebelumnya diperdagangkan dengan diskon besar akibat invasi ke Ukraina, kini menjadi komoditas panas yang diperebutkan saat konflik di Timur Tengah mengancam jalur pasokan utama dunia.