Recep Tayyip Erdoğan adalah Presiden Turki. ANADOLU


Presiden Recep Tayyip Erdogan memperingatkan kemungkinan intervensi militer terhadap Israel, di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik yang melibatkan Ankara dan Tel Aviv. Pernyataan ini muncul setelah upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui kebuntuan.

Peringatan tersebut disampaikan Erdogan dalam pidato politik pada Minggu. Ia merujuk pada operasi militer Turki di Libya dan kawasan Karabakh sebagai preseden. 

“Sama seperti kami masuk ke Libya dan Karabakh, kami bisa masuk ke Israel. Tidak ada alasan untuk tidak melakukannya,” kata Erdogan, seraya menambahkan, “Ini membutuhkan kekuatan dan persatuan.”

Ucapan itu datang saat hubungan kedua negara memburuk tajam menyusul langkah hukum dari Istanbul. Jaksa Turki mendakwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama puluhan pejabat Israel terkait insiden penyergapan kapal bantuan menuju Gaza pada 2025.

Kantor Kejaksaan Tinggi Istanbul menjerat para terdakwa dengan sejumlah tuduhan berat, termasuk genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, penyiksaan, dan penahanan ilegal. Jaksa menuntut hukuman penjara seumur hidup yang diperberat serta tambahan hukuman hingga ribuan tahun bagi masing-masing terdakwa.

Kasus ini berakar dari operasi angkatan laut Israel terhadap armada kemanusiaan di perairan internasional. Dalam insiden tersebut, sejumlah aktivis, termasuk pegiat iklim Greta Thunberg, ditahan dan dipindahkan ke wilayah Israel.

Pemerintah Turki menyatakan penuntutan dilakukan berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut serta hukum pidana nasional. Namun, langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis karena Israel tidak mengakui yurisdiksi Turki.

Ketegangan meningkat cepat sepanjang akhir pekan. Netanyahu melalui akun X menuding Erdogan “menampung rezim Iran beserta proksinya” dan “membantai warga Kurdi-nya sendiri.” Pernyataan itu dikutip oleh kantor berita Agence France-Presse.

Sejumlah pejabat Israel turut merespons keras. Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut Erdogan sebagai “harimau kertas” dan meminta dia untuk “diam dan tutup mulut.” Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir juga melontarkan tanggapan bernada keras.

Kementerian Luar Negeri Turki membalas dengan menyebut Netanyahu sebagai “Hitler zaman kita.” Pernyataan itu dirilis bertepatan dengan peringatan Yom HaShoah di Israel. 

“Netanyahu, yang digambarkan sebagai Hitler zaman kita akibat kejahatan yang telah ia lakukan, adalah sosok yang sudah dikenal luas dengan rekam jejak yang jelas,” kata kementerian tersebut.

Ancaman militer dari Erdogan bukan yang pertama. Pada Juli 2024, ia juga melontarkan peringatan serupa. Sejumlah analis melihat pola retorika keras terhadap Israel kerap muncul dalam dinamika politik domestik Turki.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ankara memang memperluas jejak militernya di berbagai kawasan, termasuk Suriah, Libya, dan Kaukasus Selatan. Hal itu membuat pernyataan terbaru Erdogan dipandang lebih signifikan di tengah situasi Timur Tengah yang semakin tidak stabil.