![]() |
| Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraannya pada hari Selasa, 24 Februari 2026, di ruang sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, DC. WHITE HOUSE/DANIEL TOROK |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor sebesar 50% terhadap setiap negara yang memasok senjata militer ke Iran, langkah yang memperketat tekanan ekonomi Washington hanya sehari setelah gencatan senjata rapuh menghentikan eskalasi konflik antara kedua negara.
Kebijakan tersebut diumumkan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (8/4) pagi waktu setempat. Ia menegaskan tarif akan berlaku menyeluruh terhadap seluruh barang ekspor negara yang terlibat dalam pengiriman persenjataan ke Teheran.
"Negara yang memasok Senjata Militer kepada Iran akan segera dikenai tarif sebesar 50% untuk semua barang yang dijual ke Amerika Serikat, berlaku segera. Tidak akan ada pengecualian atau pembebasan!" tulis Trump.
Langkah ini memperluas perintah eksekutif yang telah ia tandatangani pada Februari, yang sebelumnya memberi dasar hukum penerapan tarif terhadap negara yang tetap berbisnis dengan Iran. Tarif tersebut sebelumnya dipatok 25%, setelah pertama kali diancamkan pada Januari.
Trump tidak menyebut negara tertentu sebagai target. Namun laporan Reuters dan Financial Times menyebut China dan Rusia termasuk pemasok utama sistem rudal, pertahanan udara, serta teknologi militer bagi Iran dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara disebut ikut membantu pemulihan kemampuan militer Iran setelah serangan gabungan AS-Israel pada Juni 2025.
Di tengah ancaman ekonomi tersebut, Trump juga menyampaikan nada yang lebih kooperatif terhadap Teheran melalui serangkaian unggahan lain. Ia menyebut Iran telah mengalami "apa yang akan menjadi Pergantian Rezim yang sangat produktif" dan mengatakan Washington siap membuka kerja sama lebih lanjut.
Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan mengizinkan adanya "pengayaan Uranium" dan menyatakan AS akan bekerja sama dengan Iran untuk "menggali dan menyingkirkan semua 'Debu' Nuklir yang terkubur dalam (oleh Pembom B-2)".
Ia juga mengungkapkan pembicaraan mengenai pelonggaran tarif dan sanksi sedang berlangsung. "Kami sedang, dan akan terus, membicarakan keringanan Tarif dan Sanksi dengan Iran. Banyak dari 15 poin tersebut telah disepakati," tulisnya.
Pernyataan Trump muncul setelah 24 jam perkembangan cepat dalam konflik Washington–Teheran. Pada Selasa malam, ia menyetujui penangguhan operasi militer terhadap Iran selama dua pekan setelah proses mediasi yang melibatkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir.
Kesepakatan itu tercapai kurang dari dua jam sebelum tenggat yang sebelumnya ditetapkan Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang sempat ditutup di tengah konflik.
Trump sebelumnya memperingatkan Iran akan menghadapi penghancuran "seluruh peradaban" jika tuntutan tersebut diabaikan.
Menurut laporan Reuters, pengumuman gencatan senjata sempat memicu rasa lega di pasar global dan di dalam negeri Iran. Namun sejumlah isu utama masih belum terselesaikan, termasuk pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Pembicaraan lanjutan antara kedua pihak dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Jumat (10/4), dengan fokus pada kerangka kesepakatan jangka lebih panjang di tengah hubungan yang masih rapuh.

0Komentar